Cerita CINT♥ Sebuah Cita Dalam Islam Oleh : ZQ A. CERITA CINTA Hanya satu kata “Cinta” yang kerapkali menjadi biang segala ihwal, dari yang bahagia sampai petaka, yang terjerat bisa pemuda atau orang tua, yang mabuk bisa usia belia sampai usia senja. Itulah realitas cinta. Kata cinta dalam bahasa Arab bisa bermakna “Hubbi” suatu istilah untuk mengungkapkan kecondongan tabiat kepada sesuatu yang dirasa enak. Kalau kecondongan itu lebih kuat dan kokoh maka disebutlah dengan “Isyqa” (rindu). Dalam Al Qur-an kata yang berakar dari Hubbi disebut 39 kali dalam bentuk Yuhibbu, 4 kali dalam bentuk jamak “Yuhibbuuna” atau “Tuhibbuuna” sebanyak 6 kali. Sedangkan 1 kali dalam kalimat “Habbaba” yang terdapat dalam surat Al Hujrat ayat 7. Di dalam surat Ali Imran ayat 14 dan Surat Shaad menyebutnya dalam bentuk kata “Hubbu “.
Dalam dunia Tasawuf, cinta adalah energi dasyat yang mengantar seorang sufi melewati tahapan-tahapan (station/maqom) untuk mencapai puncak kedekatan dengan ilahi. Cinta dalam panorama seorang sufi memiliki makana: 1. Memeluk kepatuhan pada Allah dan membenci sikap melawan kepadanya. 2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi. 3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari dari yang dikasihi. Dasarnya adalah surat al ma’idah ayat 54 فسوف ياتي اللهُ بقومٍ يحبّهم و يحبّونه ِArtinya : “Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintainya dan yang mencintainya” Surat Al ‘Imran ayat 30 قل ان كــــنتم تحبون اللهَ فاتبعوني يحببكمُ الله و يغفرلكم ذنوبكم Artinya : “Jika kamu cinta kepada Allah, maka turutlah aku dan Allah akan mencintai kamu” Sebuah hadis ولايَزالُ عَبدَي يَتَقرَّبَ اِليّ بالنَّوافِلِ حتّي اُُحِبَّه ومَن أَحْببتُه كنتُ له سمعاً و بصرًا و يدًا. “hambaku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta padanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tanganku.” Kata yang disebut dalam al Qur-an 52 kali inilah yang bisa membawa orang menjadi budak untuk yang dicintainya dan membelanjakan semua yang dimilikinya demi yang dicintainya itu. Bukankah sudah masyhur dalam hikayat bahwa Zulaikha, hanyut terbawa, hilang tenggelam dalam cintanya kepada Yusuf, Si pemuda ganteng tiada tanding, membuat Si Zulaikha ingin bersanding. Pemuda Percaya diri dan punya pribadi, membuat kecantikan Zulaikha tiada arti. Dia pemuda “elok bodi” dan “luhur budi”, membikin Wanita ini menghamburkan kalung mutiara miliknya seberat muatan tujuhpuluh onta sebagai bukti. Zulaikha akan menghadiahi Setiap orang yang datang menghampiri dan berkata : “Aku melihat Yusuf hari ini”. Terciptanya Dunia ini adalah dari “Cinta” Allah kepada Manusia. Ihwal pembunuhan dan kejahatan yang pertama kali di dunia adalah masih perkara cinta. Betapa Qobil tega menghabisi Saudaranya sendiri karena “Cintanya” pada pasangan Habil. Cinta mencipta bahagia dan duka, Cinta membuat hati kita berbunga-bunga bahkan terkadang menjadi buah malapetaka. Cinta sejuta rasa. Benar-benar cinta suatu misteri dan dalam keabadiaannya cinta akan tetap menjadi misteri. Seperti kata Iqbal, filosof Muslim dari Kasymir India, dalam puisinya ia menulis: Cinta adalah abadi, dan kan berakhir dengan keabadian Tak sedikit yang akan menjadi pemburu cinta Bila hari perhitungan telah datang Orang yang tak mencintai bakal beroleh kehinaan. Titik Terang ini bernama Pribadi Ialah pancaran api kehidupan di bawah debu kita Cinta membuatnya lebih abadi Lebih segar, lebih membakar dan lebih memijar Cintalah yang mengangkat insan, tinggi mencapai kebesaran hakiki. Wujudku adalah patung yang terbengkalai Cinta telah mengukirku hingga selesai Akupun menjadi Manusia. Tuhan ….! Perjalanan cintaku tak mengenal akhir. B. DERMAGA CINTA DALAM ISLAM Mengapa Harus Mencintai ? Islam menempatkan “Cinta” dalam bentuk komitmen yang luas. Orang yang mengakui Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagi utusan-Nya dalam kesaksiannya (syahadahnya) harus terwujud dalam rasa cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Meskipun wujudnya amat banyak, maka cinta itu harus bermuara pada dua kesaksian, dan itulah (Syahadah) dermaga cinta yang sejati. Dari dermaga itu kita akan berlabuh menuju Cinta Allah dan Cinta Rasulnya. Cinta itu melibatkan kepentingan, kepentingan akan melahirkan kesungguhan, kesungguhan akan melahirkan pengatahuan --bahkan pengetahuan yang mendalam--. Terhadap Allah dan utusan-Nya, seorang Muslim harus menyimpan rasa cinta, betapapun kecilnya. Karena cinta merupakan dasar dan landasan yang bisa mengantar seseorang pada pengetahuan dan keikutsertaan. To know some thing is to love some thing, begitulah kira-kira. Untuk bisa “tahu” terlebih dahulu harus menyimpan rasa “cinta”. Cinta memang duduk sebagai landasan untuk mengetahui segala yang dicintai. Karena itu Cinta kepada Nabi Muhammad saw. Bukan hanya sunat, tapi adalah wajib, yang darinya seorang Muslim akan bisa mengenalnya lalu kemudian mencerminkan diri padanya. “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya,” begitu pesan Nabi. Apabila anda mencintai seseorang misalnya, maka anda akan mencari tahu setiap hal yang berkaitan dengannya; bahkan anda ingin menghadirkannya selalu dalam liku-liku hidup anda. Anda menyimpan posternya, buku-bukunya, artikel yang ditulis tetangnya bahkan mungkin namanya anda pakai untuk nama putra anda yang lahir. Cinta memang laksana air mengalir yang memindahkan seluruh sifat dan karakter si kekasih kepada yang mencintainya. Tanda-tanda Cinta Tanda-tanda cinta yang kami maksud merupakan frame (bingkai) yang bisa dipasang kepada siapa saja, sesuai kepada dan terhadap apa kita menaruh cinta itu. Apakah Cinta kita kepad Sang Kholik atau kepada Mahluk. Bingkai cinta ini akan menampilkan gambar-gambar dari warna absrak dan misterinya Cinta. Dengan bingkai ini dapat kita kenali kecenderungan kita terhadap sesuatu itu bertajuk cinta atau tidak. Satu hal lagi, banyak orang telah terjerat cinta tanpa terasa,, dan ketika ia menyadarinya, sudah terlambat dan amat sulit untuk melepaskannya. Jika saya bertanya satu pertanyaan, “apakah anda jatuh cinta...? “ Maka minimal jawabannya menjadi sembilan kata tanya, bisa jadi ini yang disebut sembako cinta: - Apakah anda selalu ingat tentang dia? (Al Ahzab ayat 41-42)
- Apakah anda sering menyebut namanya dengan perasaan senang?
- Apakah anda berdebar saat mendengar namanya?
- Apakah anda Ingin selalu dekat dengannya?
- Apakah anda selalu Rindu dan ingin bertemu dengannya?
- Apakah anda merasa tentram saat bersamanya?
- Apakah anda Khawatir kehilangan dia? (Al Anbiya’ ayat 90)
- Apakah anda berusaha memenuhi keinginannya, dengan segala pengorbanan?
- Apakah anda ingin menarik perhatiannya, dengan prilaku yang menyenangkannya? ( Al Imron ayat 31)
Jika jawaban dari sembilan pertanyaan tersebut diatas “ya”, maka saya ucapkan “selamat! anda telah jatuh cinta, tapi awas! Hati-hati mengekspresikannya.” Cinta harus diekpresikan secara benar dan mengarah kepada hakekat cinta yang sesungguhnya. Cinta harus diekpresikan tidak melukai, tapi menyembuhkan; ekpresi cinta itu tidak merendahkan, tapi memulyakan; Cinta juga tidak memalukan, namun penghormatan; Wujud cinta itu juga tidak menodai, tapi justru mensucikan. Jika yang terjadi sebaliknya, maka itu namanya syahwat adanya. Tingkatan Cinta Secara umum, orang cenderung membagi Cinta menjadi dua jenis katagori. Pertama cinta semu, cinta ini akan berakhir pada kebosanan. Cinta pada katagori ini bahkan sulit dibedakan antara cinta dan hasrat behavioris. Kita cinta pada dunia, harta, anak-istri dan sebagainya. Cinta kita kepada mereka tidak selamanya bisa konstan sampai akhir, meluap-luap bak api membara. Semua tergantung aspek yang kita cintai dan tidak bisa menerima kelemahan dan kekurangan. Begitu yang menyebabkan cinta hilang, maka cinta itu akan lenyap bersamanya. Kedua, cinta sejati; yaitu cinta yang tidak pernah bosan dan berakhir. Cinta ini tidak mengenal batas waktu, ia akan terus berkobar. Sebuah cinta yang terbit untuk Allah. Ali a.s. berkata: “cinta pada Allah adalah api yang membakar segala sesuatu yang dilewatinya.” Karena cinta pada Allah, maka orang-orang mukmin mau mati di jalan-Nya. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi pecinta selain dapat membahagiakan terhadap yang dicintai. Ketika ditanya tentang cinta kepada Allah, Al- Khawwas mengatakan;” Cinta kepada Allah adalah cinta yang menghapus segala keinginan, membakar segala sifat dan kebutuhan dan menenggelamkan dirinya di dalam lautan petunjuk. Imam Assyidiq as. Pernah berdo’a: “Ya Sayyidi, aku lapar dan tak pernah kenyang dari mencintai-Mu; aku haus dan tak pernah puas dari mencintai-Mu. Oh betapa rindunya pada Dia. Yang melihatku tapi aku tidak melihatnya. “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku dan anakku,” kata seorang sahabat yang datang kepada Rasulullah saw. “Apabila aku berada di rumah, lalu kemudian teringat padamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu. Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi lain. Sementara aku apabila ditaqdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu.” Mendengar kata-kata sahabat yang demikian mengharukan hati itu, Nabi tidak memberi sembarang jawaban sampai malaikat Jibril turun dan membawa firman Allah berikut: ومن يتطع الله و الرسولَ فالئك مع الّذين انعم الله عليهم من النبيّن و الصِّدّيقين و الشهداءٍِ و الصالحين و حَسُن الئـــــك رفيقاً. ِArtinya : Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasulnya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin (orang-orang yang jujur dan benar dalam imanya), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69) Al kisah, ada segerombolan orang mendatangi sahabat bernama Asy-Syubali, dia berkata: “siapakah kamu semua ? Mereka menjawab: “kami adalah orang-orang yang mencintaimu, maka terimalah”. Kemudian dia malah melempar mereka dengan batu dan mereka berlari darinya. Dia berkata: “mengapa kamu lari dari aku? Kalau kamu betul orang-orang yang mencintaiku tentu tidak akan lari dari percobaanku”. Sedangkan Menurut seorang ahli tasawuf, Al Sarraj, cinta itu mempunyai tiga tingkatan: 1. Cinta Biasa, yaitu mengingat yang dicintainya dengan sering menyebut nama dan senantiasa memujinya. 2. Cinta Orang Orang yang Siddiq, yaitu orang yang bukan hanya mampu mengingat dan memujinya saja, tetapi ia kenal kepada yang dicintainya. Cinta dalam tingkatan ini dapat menghilangkan tabir yang memisahkannya, menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri. 3. Cinta orang arif, yaitu orang yang bukan saja kenal, tapi tahu betul pada yang dicintainya secara detail. Apa sifat-sifatnya, kehendaknya, kesukaannya dan apa yang dibencinya. Bahkan Sifat-sifat yang dicintai akan masuk ke dalam dirinya dan mewujudkan apa yang menjadi kehendak yang dicintai. C. KESAYANGAN SANG KEKASIH Jika dengung cinta mulai disuarakan, lalu ada sambung bergayut, cinta tidak hanya sekedar bertepuk sebelah tangan, maka mulailah seseorang telah memperoleh Cinta dari yang dicintainya., maka mereka berdua sering kita sebut “sepasang kekasih”. Dan mereka saling menyebutnya “Kau adalah kekasihku”. Kata kekasih juga bisa berkonotasi suatu hubungan cinta yang teramat dalam. Kita sering menyebut orang yang paling kita cintai dengan “Kekasihku”, dan ini terdengar lebih romantis dan menyentuh, seoalah-olah hendak mengatakan bersama cinta ada pengertian, penerimaan apa adanya, kepatuhan dan pengorbanan. Masing-masing kekasih memiliki alasan tersendiri mengapa ia mencintai si Dia. Dan sebaliknya mengapa Dia mencintai kekasihnya. Tentu ada unsur kesayangan yang ada pada kekasihnya yang menyebabkan Dia mencintai Kekasihnya. Semakin aspek kesayangan itu muncul pada diri Sang kekasih, betambahlah ia Cintanya pada Sang Kekasih itu. Begitulah kira-kira. Demikian juga, Allah tidak akan gampang menyebut seseorang sebagai kekasihnya tanpa ada aspek yang di sayangi Allah melekat pada seseorang tersebut. Kekasih dalam bahasa Arabnya “Waliyun”, dalam Al Qur-an tersebut 21 kali. Bentuk jamaknya “Awliya’” yang terulang sejumlah 34 kali. Kekasih Allah disebut juga “Waliyullah”. Bentuk jamaknya “awliya’ Allah“ yang artinya kekasih-kekasih Allah. Cinta Orang-orang mukmin kepada Allah adalah mereka mengikuti perintah-Nya, mengutamakan taat pada-Nya dan mencari ridha-Nya. Sedangkan cinta Allah kepada orang mukmin adalah pujian Allah atas mereka, pahala-Nya atas mereka, ampunanNya terhadap kesalahan mereka. Kata Imam Ghozali, “Barang siapa mengaku empat hal tanpa disertai empat yang lain, maka dia adalah pembohong. 1. Barang siapa mengaku cinta Surga tetapi dia tidak beramal dengan ketaatan, maka dia adalah pembohong, 2. Barang siapa yang mengaku cinta Nabi Muhammad saw. Tetapi tidak cinta kepada Ulama dan kaum fakir miskin, maka dia adalah Pembohong, 3. Barang siapa yang mengaku takut dari api neraka tetapi tidak menginggalkan maksiat, maka daia adalah pembohong, 4. Barang siapa yang mengaku cinta kepada Allah swt. Tetapi berkeluh kesah (tidak sabar) dari cobaan, maka dia adalah pembohong. Konsekwensi logisnya, tanda-tanda cinta kepada Allah adalah cinta Al Qur-an, tanda cinta Allah dan cinta Al Qur-an adalah cinta kepada Nabi Muhammad, tanda cinta Nabi Muhammad adalah cinta sunnah, tanda cinta Sunnah adalah cinta akhirat, tanda cinta akhirat adalah benci terhadap dunia dan tanda benci dunia adalah tidak mengambil dari dunia kecuali sebagai bekal dan persiapan menuju akhirat. Abul Hasan Az Zanjani berkata: “pangkal ibadah adalah tiga unsur; mata, hati dan lidah. Mata untuk mengambil ibarat, hati untuk tafakkur dan lidah dengan kebenaran untuk tasbih dan dzikir (QS: Al Ahzab 41-42). Kalau orang sudah menjadi kekasih Allah dia akan memperoleh beberapa keistemewaan. Pertama, Allah akan memberi rezki dari tempat yang tidak di duga-duga. Kedua, doa mereka makbul. Ketiga, kehadiranya mendatangkan berkah bagi tempat sekitarnya. D. TERIMAKASIH KEKASIH Sebenarnya kita dapat mengukur cinta kita sendiri tampa harus membuktikan di depan orang yang kita cintai. Bukti yang disajikan dengan sengaja oleh orang yang mencintai kita seharusnya justru menjadi keraguan bagi kita, karena kita tidak dapat menyertai dia dan menilai pribadinya di belakang kita. Kita tidak perlu dengan lantang berkata ribuan kali kepada sang kekasih: “dengan apa aku harus membuktikan cintaku padamu”,. Maka berterimakasihlah kepada Allah yang memberikan rasa cinta yang datang tak dapat di duga, yang pergi tiada dapat di tunda. Inikah Cintah ……….. Oleh cinta pribadi kian abadi Lebih hidup, lebih menyala, dan lebih kemilau………”, kata Mohammad Iqbal. Terimakasih Sang Kekasih, karena Engkau telah beri aku Cinta. -------------- Reference: Harun Nasution, Falsafah Dan Mistisisme Dalam Islam, Bintang Bulan, 1985 Murtaho Muthohari, Hijab Gaya Hidup Wanita Muslimah, Mizan, 1985 Ali Fikri, Wanita Teladan Zaman, Remaja Rosdakarya Bandung, 1995
|