 MENJADI MANUSIA MERDEKA Oleh Resapugar Kemunculan masyarakat modern yang dilatar belakangi oleh potensi rasional dan upaya pembebasan dari segala bentuk atau unsur mistis. Kebangkitan alam yang semakin lama terbelenggu oleh penjara doktrin dan filsafat kristen yang memandang manusia sebagai makhluk rendah, yang memiliki dosa asal sejak lahir telah menjadi pemicu masyarakat Eropa dalam merubah dan menata tatanan struktur dan kehidupan social culture menuju masyarakat modern dengan upaya gerakan atau melakukan revolusi. Melalui filsafat rasionalisme, gerakan ini telah melahirkan revolusi paham keagamaan bahwa pada dasarnya manusia itu merdeka, juga sekaligus melahirkan revolusi pemikiran yang pada akhirnya menimbulkan revolusi ilmu pengetahuan .
Semangat membebaskan diri dari mitologi dan agama ini berimplikasi terhadap basis epistomologi barat dalam mengembangkan proyek modernisasi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdiri secara otonom, tanpa didasari nilai agama bahkan anti agama. Di satu sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyimpan potensi menghancurkan martabat manusia menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri, disisi lain mengungkap tabir misteri kosmologi yang tak kunjung usai. Pembangunan pondasi konstruksi berfikir masyarakat modern yang menganggap bahwa kehidupan berpusat pada manusia (baca ; antroposentrisme). Manusia adalah penguasa alam dan penentu kebenaran sehingga kitab suci tidak diperlukan lagi. Cita-cita modernisme barat adalah melepaskan diri dari unsur agama (baca ; sekulerisme), menjadikan alat-alat produksi sebagai power hegemoni melalui mekanisme, otonomisasi dan standarisasi. Teknologi modern dilahirkan dari rahim renaisans yang semula muncul atas spirit kemerdekaan dan keterbukaan pikiran, memerdekakan manusia dari belenggu mistis, namun berubah menjadi perbudakan baru. Manusia yang semula merdeka, yang merasa menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajatnya menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin, mesin raksasa teknologi modern. Logika produksi teknologi modern, sesungguhnya telah menjadikan hakikat manusia semakin tereduksi atau terjadi degradasi kedudukannya, manusia hanya menjadi bagian dari elemen mekanisme, otonomisasi, standarisasi. Karena itulah manusia telah terbelenggu oleh model perbudakan baru, manusia menjadi mati, tidak merdeka dan ini sudah keluar dari jalur spirit awal renaisans. Menurut kierkeegard, manusia modern mengalami kesendirian, kebosanan dan kesia-siaan sehingga kehidupannya dipenuhi dengan pesimisme. Teknologi modern yang telah mengakibatkan terjadinya degradasi kedudukan manusia. Dewasa ini, dalam diri manusia telah mengalami kesepian dalam keramaiaan, hidup di tengah-tengah masyarakat yang dikendalikan oleh kekuatan pasar atau alat produksi yang sesungguhnya memberikan kenikmatan semu. Materialisme adalah spirit yang telah menyatu dan menjadi pondasi atau ruh masyarakat industri. Konsep dasar kehidupan masyarakat seperti ini akan mengakibatkan krisis kebermaknaan atau kehampaan hidup. Berbeda halnya dengan konsep dasar ajaran Islam yang menempatkan nilai-nilai transenden sebagai basis epistemologi dalam membangun peradaban. Konsepsi ini terbebas dari belenggu penghambaan dan penindasan sesamanya, membebaskan dari konsepsi pikir atas anggapan manusia tidak mempunyai kemerdekaan dan hidup dalam absurditas, membebaskan manusia dari sistem kemasyarakatan yang membelenggu baik sistem social kultural, ekonomi, dan politik. Menurut Isma’il Razi al Faruqi, doktrin keesaan Tuhan bukan semata-mata suatu kategori etika, Tauhid adalah suatu kategori kognitif yang berhubungan dengan pengetahuan dan kebenaran proposisi-proposisinya. Tauhid sebagai prinsip metodologis, menurut al Faruqi, memuat tiga prinsip utama, yaitu : pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas (rejection of all that does not correspond with reality) ; kedua, penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki (daniel of ultimate contradiction); dan ketiga, keterbukaan bagi bukti yang baru dan/atau yang bertentangan (openness to new and/or contrary evidence). Kehadiran Islam telah memberikan penghargaan atas martabat dan derajat kedudukan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Tentu dalam mengemban amanah suci ini, Tuhan telah memberikan potensi dalam diri manusia berupa akal. Akal adalah daya ruh untuk memahami dan merasakan kebenaran, Ia dapat memaknai, menyusun, merumuskan konsepsi kehidupan serta melakukan rekayasa peradapan. Islam telah memberikan ruang kebebasan memilih sebagai proses kehidupan manusia dalam menempuh ujian terhadap amal perbuatan manusia. Kebebasan memilih berarti kemerdekaaan pikiran dalam menentukan sikap atau tindakan dan ini mengandung konsekuensi logis bagi manusia untuk mempertanggung jawabkan segala tindakan yang dilakukannya selama proses kehidupan berlangsung di dunia.
|