Home Opini Artikel Kiriman Eksploitasi Seksualitas Remaja

Pengunjung Online

Saat ini 1 guest online

Jumlah Pengunjung

Anda Pengunjung ke : 26648

Terimakasih

Kami Atas nama pengelola situs ponpeskarangasem.com mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan semua yang telah mengirimkan artikelnya. Semoga apa yang kita lakukan dapat bermanfa'at untuk umat. amin......

QUICK COUNT

Hasil Perhitungan Ulang

Hasil Final Perhitungan ulang

1. Sahabat 95.036 Suara/14,45%

2. Obama 40.449 Suara/6,17%

3. Faham 268.798 Suara/40,98%

4. Sehati 251.935 Suara/38,41%

Sumber : tanggal 11 Juli 2010

 

 

Pendaftaran 2010/2011

Jumlah Sementara Pendaftaran Siswa Baru

Tanggal : 10 Juli 2010

Jam       : 12:18 WIB

- MTsM 02 75 Siswa

- SMPM 14 110 Siswa

- MAM 01 54 Siswa

- SMAM 06 175 Siswa

- SMKM 08   140 Siswa

Sumber :

Panitia Pendaftaran 2010-2011

 
Banner
PDF Print
Written by Resapugar   

EKSPLOITASI SEKSUAL REMAJA ;
Sebuah Ancaman Kehancuran Bangsa

Oleh Resapugar

Kesucian dunia pendidikan telah ternodai kembali dengan adanya adegan mesum yang terjadi di Pekalongan – Jawa Tengah. Dalam rekaman video yang berdurasi 4 menit, pelajar SMA Swasta di Pekalongan tengah melakukan adegan hubungan selayaknya pasangan suami istri.. Kepala sekolah SMA swasta tersebut, Mieke Wardani ketika dikonfirmasi Rabu (28/1), membenarkan jika pelajar putri dalam adegan itu, merupakan siswanya. Yang bersangkutan siswi kelas 12. Kasus prilaku seksual ini terbongkar, ketika bulan januari lalu tiba-tiba secara mendadak pelajar putri tersebut tidak masuk sekolah dan conon kabarnya telah pergi ke luar negeri, ia dipindahkan ke Beijing setelah adegan mesum tersebut telah beredar dan merebak dimasyarakat melalui ponsel. (Sumber Jakartapress.com)


Tindakan perilaku seksual pranikah dikalangan pelajar tidak hanya terjadi di kota pekalongan saja melainkan telah terjadi dimana-mana, diseluruh kota, bahkan didesa diseluruh propinsi di Indonesia dalam frekuensi kuantitas yang relatif sangat banyak. Sungguh ironis, remaja adalah merupakan generasi penerus bangsa yang mengemban amanah suci melanjutkan estafeta kepemimpinan dan keberlangsungan roda sejarah peradaban bangsa, namun yang terjadi justru banyak kalangan remaja yang melakukan tindakan perilaku seks yang menyimpang nilai-nilai normatif dan konstitusional. Bagaimana mungkin kemajuan dan kebangkitan peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat itu akan terwujud, manakala generasi penerusnya justru melakukan perusakan sendi-sendi moralitas kebangsaannya sendiri. Adalah sebuah ancaman dan tanda-tanda kehancuran bagi bangsa Indonesai ketika generasi penerusnya melakukan tindakan penyimpangan moralitas, baik berupa kekerasan seksual, ekploitasi dan komersialisasi seksual remaja yang tentu bertentangan dengan nilai-nilai transendensi dan hak asasi manusia.

Menjadi sebuah keprihatinan yang mendalam terhadap realitas kehidupan yang menyimpang nilai-nilai agama dan kebangsaan ini. Pelbagai bentuk penyimpangan perilaku telah terjadi dikalangan pelajar dan dunia pendidikan pada umumnya baik yang dikategorikan sebagai tindakan kriminalitas maupun kenakalan remaja. Misalnya ; kasus obat-obatan terlarang (narkoba) dan minuman keras, hubungan seks pranikah baik yang dilakukan atas dasar suka sama suka maupun tidak, dan lain sebagainya. Ironisnya lagi, kasus seksual tidak hanya terjadi dikalangan remaja bahkan juga kasus guru yang menodai kesuciaan keperawanan pelajar putri yang menjadi peserta didiknya.

Berbagai macam motif atau dorongan yang melatarbelakangi terjadinya perilaku menyimpang khususnya kasus seksual remaja. Mulai dari dorongan rasa ingin tahu dunia seksualitas, mengkonsumsi tontonan media pornografi, sampai pada pendidikan agama dan moral yang terbatas kuantitas dan kualitas pengajaran/pembelajarannya baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Disamping itu, secara sosiologis, adanya proses percepatan urbanisasi dan secara psikologis adanya percepatan masa pubersitas akan berdampak pada perilaku seksual dikalangan remaja. Berdasarkan hasil laporan penelitian WHO pada tahun 1993, perubahan-perubahan social tersebut menyebabkan semakin banyaknya remaja yang melakukan hubungan seks pranikah pada usia dini.

Arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang dan kesempatan untuk mengakses berbagai bentuk/macam informasi, misalnya informasi mengenai seksualitas. Tanpa basis pengetahuan yang lengkap, baik dan benar dengan mudahnya melalui internet, para remaja dapat mendapatkan infomasi dan pengetahuan yang salah sehingga terjadi kekeliruan penalaran, apalagi sesuai dengan kecenderungan secara psikologi sebagian besar remaja yang identik dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu dan akan mencoba apa yang dilihat dan didengar tanpa proses metodologi penalaran dengan baik dan benar.

Karakteristik Seksual Remaja
Secara general, definisi seksual adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau berhubungan dengan tindakan dan perilaku hubungan intim antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan perkembangan fisik laki-laki dan perempuan yang berbeda jenis karakter seksualnya, ada pembagian 2 (dua) jenis karakter seksualnya yaitu seksual primer dan seksual sekunder. Primary sexual merupakan karakteristik seksual yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi dan organ alat kelamin laki-laki maupun perempuan (genitalia). Secondary sexual adalah karakteristik seksual yang berupa tanda-tanda pertumbuhan organ seksual, seperti pada remaja putra ; tumbuh rambut kemaluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain-lain. Sedangkan pada remaja putri ; tumbuh rambut kemaluan, pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, mulai mengalami haid dan lain sebagainya.

Pada titik awal petumbuhan karakteristik seksual, secara psikologis usia dimulai pada masa usia remaja. Remaja adalah masa peralihan usia antara anak menuju dewasa yang interval waktunya berbeda-beda tergantung factor social dan budaya. Ciri-cirinya adalah mulai berfungsinya alat-alat reproduksi, libido mulai tumbuh, daya intelegensia mencapai puncak perkembangannya, frekuensi emosi masih sangat labil, rasa kesetikawanan yang kuat terhadap teman sebaya dan dikategorikan belum menikah.

Menurut WHO, definifi remaja adalah suatu masa dimana ;
1. Individu yang berkembang dari saat pertama ia menunjukkan tand-tanda seksual sekunder sampai saat mencapai kematangan seksual
2. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa
3. Terjadi peralihan dari ketergantungan social ekonomi yan penuh dengan keadaan yang relative lebih mandiri.

Usia remaja berkisar antar 10 – 20 tahun, yang dibagi menjadi 2 fase yaitu remaja awal (berumur 10 – 14 tahun) dan remaja akhir (berumur 15 – 20 tahun).
Menurut Sarlito, secara umum batasan umur remaja Indonesia antara 11 – 24, belum menikah dan dengan pertimbangan sebagai berikut ;
1. Usia 11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai nampak ( criteria fisik )
2. Dibanyak masyarakat Indonesia usia 11 tahun sudah dianggap akil baligh baik menurut adapt maupun agama sehingga masyarakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak ( criteria social )
3. Pada usia 21 tahun mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan psikoseksual dan tercapainya puncak perkembangan kognitif maupun moral ( criteria psikologik )
4. Batas usia 24 tahun merupakan batas maksimum yaitu untuk memberikan peluang bagi mereka yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang tua, belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa ( secara adat/tradisi )
5. Status perkawinan sangat menentukan karena arti perkawinan masih sangat penting dimasyarakat secara menyeluruh. Seseorang yang sudah menikah pada usia berapapun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa enuh baik secara hokum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga karena itu remaja dibatasi khusus untuk yang belum menikah.

Seiring dengan proses pertumbuhan karakteristik seksual primer dan sekunder pada usia remaja menuju kematangan psikologis. Dari situ muncul juga hasrat dan dorongan untuk memenuhi atau menyalurkan keinginan seksualnya dikarenakan oleh dorongan secara alamiah manusia yang mempunyai ciri dan fungsi sebagai makhluk hidup untuk berkembangbiak dan mempertahankan keturunan. Naluri pemenuhan kebutuhan seksual bersifat fitrah dan suci, namun dalam proses pemenuhannya bisa ternodai kesuciannya jikalau tidak dilakukan dengan proses yang baik dan benar sesuai dengan nilai-nilai normatif dan konstitusional.

Perilaku Seksual Remaja
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang dimotivasi hasrat dan nafsu birahi seksual yang dilakukan seseorang, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Beraneka ragam bentuk-bentuk tingkah laku seksual yang sering dilakukan kalangan remaja dalam memenuhi hasrat seksual yang menyimpang, mulai dari perasaan tertarik (pacaran), berkencan, bercumbu dan bersenggama. Sedangkan obyek seksualnya bisa berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri.

Adapun berbagai perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;
1. Masturbasi atau onani, yaitu kebiasaan penyimpangan perilaku seksual dengan cara memanipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan nafsu birahi untuk memenuhi kenikmataan seksual, kebiasaan buruk ini seringkali menimbulkan goncangan psikologis remaja yang sering melakukannya.
2. Pacaran, yaitu sebuah ekspresi perilaku seksual menyimpang dikalangan remaja, yang dilakukan mulai dari sentuhan, pengangan tangan sampai ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang didasari memenuhi dorongan keinginan hasrat dan nafsu birahinya.
3. Tindakan yang mengarah pada pemuasan kebutuhan seksual, seperti menonton video porno, mengkonsumsi gambar-gambar porno baik melalui internet maupun majalah, dan lain sebagainya.

Dalam buku Psikologi Remaja, Sarlito W. Sarwono menyatakan bahwa factor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja adalah sebagai berikut ;
1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormone ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu
2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hokum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan maupun karena norma social yang semakin lama semakin menuntut persyarakatan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)
3. Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut
4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media massa yang dengan teknologi yang canggih (contoh ; VCD, buku stensilan, Photo, majalah, internet dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam proses ingin tahu dan ingin mencoba akan meniru apa yan dilihat atau didengar dari media massa karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya
5. Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuan maupun sikapya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka dengan anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan dalam masalah ini
6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

Pendidikan Seksual
Dorongan memenuhi hasrat nafsu birahi selalu muncul dikalangan remaja yang mengalami masa transisi dari anak-anak menuju dewasa dengan ditandai pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder dan perkembangan kematangan psikoseksualnya. Remaja yang tidak mampu mengendalikan atau mengontrol dorongan hasrat seksualnya tentu akan mencari sarana pemenuhan kebutuhan seksualnya meskipun menempuh jalan yang menyimpang. Oleh karena itu jika tidak ada penyaluran yang sesuai dengan nilai normative dan konstitusional (menikah), maka harus dilakukan upaya-upaya untuk memberikan pengertian dan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, meliputi pertumbuhan organ alat genital, perkembangan psikoseksual remaja, dampak dan akibat penyimpangan seksual atau melakukan perilaku seksual yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.

Menurut Sarlito, pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan. Selain menerangkan aspek-aspek anatomis, biologis dan psikologis. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan nilai-nilai agama sehingga akan merupakan proses pendidikan akhlak dan moral. Pendidikan seksual juga harus diberikan secara bertahap yang disesuaikan dengan pertumbuhan perkembangan umur dan daya tangkap anak. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, social dan kesusilaan ( Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987 ).

Dalam hal pendidikan seksual, idealnya diberikan sejak dini oleh orang tua dirumah ketika anak sudah mulai bertanya perbedaan kelamin antara dirinya dengan orang lain, yang diberikan secara bertahap dan berkesinambungan dengan disesuaikan pertumbuhan umur dan daya tangkap. Namun sayangnya di Indonesia, tidak sedikit orang tua yang mampu memberikan informasi dan pengetahuan seputar masalah seksualitas. Oleh karena itu, peran pendidikan formal maupun non formal sangatlah besar dan signifikan dalam memberikan pendidikan seksual dikalangan remaja.

Adapun tujuan pendidikan seksual dikalangan remaja adalah sebagai berikut ;
1. Memberikan informasi, pengertian dan pengetahuan yang memadai mengenai perubahan fisik dan psikis yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja
2. Mendidik remaja mengetahui dan memahami peran, tuntutat dan tanggung jawab social-moral sehingga dapat mengurangi ketakutan atau kecemasan yang berkaitan dengan perkembangan dan penyesuaian kondisi psikoseksualnya.
3. Memberikan pengertian mengenai seks dalam semua manifestasi yang beraneka ragam, yang sesuai dengan nilai norma agama dan kesusilaan
4. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral dan dasar rasional dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan perilaku seksual.
5. Memberikan pengetahuan mengenai kesalahan dan penyimpangan seksual agar remaja dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan fisik dan psikisnya.

 
Banner
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow