Home Opini Sembarang Opini Prospek Kebangunan Islam

Pengunjung Online

Saat ini 1 guest online

Jumlah Pengunjung

Anda Pengunjung ke : 26653

Terimakasih

Kami Atas nama pengelola situs ponpeskarangasem.com mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan semua yang telah mengirimkan artikelnya. Semoga apa yang kita lakukan dapat bermanfa'at untuk umat. amin......

QUICK COUNT

Hasil Perhitungan Ulang

Hasil Final Perhitungan ulang

1. Sahabat 95.036 Suara/14,45%

2. Obama 40.449 Suara/6,17%

3. Faham 268.798 Suara/40,98%

4. Sehati 251.935 Suara/38,41%

Sumber : tanggal 11 Juli 2010

 

 

Pendaftaran 2010/2011

Jumlah Sementara Pendaftaran Siswa Baru

Tanggal : 10 Juli 2010

Jam       : 12:18 WIB

- MTsM 02 75 Siswa

- SMPM 14 110 Siswa

- MAM 01 54 Siswa

- SMAM 06 175 Siswa

- SMKM 08   140 Siswa

Sumber :

Panitia Pendaftaran 2010-2011

 
Banner
PDF Print

PROSPEK KEBANGUNAN ISLAM

SEBUAH IDIOLOGI ALTERNATIF-KOMPREHENSIF MENUJU INDONESIA BARU

OLEH : Zainal Muttaqin

IDIOLOGI POLITIK : SEBUAH WACANA DALAM ISLAM

Ironisme umat Islam sa’at ini adalah ketakutannya pada nilai-nilai kebenaran agamanya sendiri (Islam pobhi). Ia enggan menyuarakan kebenaran yang tertuang dalam asas dasarnya, Al Qur-an. Lebih bangga dan percaya diri jika mempropagandakan nilai-nilai kebenaran kontemporer dan kondunsif yang seraya berkelakar lebih benar dari nilai-nilai Islam yang sudah nash. Jika bukan ketakutan, paling tidak umat Islam kebanyakan telah kehilangan jati dirinya dengan malu mengatakan “saya adalah Muslim”, ini merupakan degradasi moral kaum muslimin menuju kehancuran Islam yang terluang. Padahal ke-absolutan (kemutlakan) nilai-nilai Islam yang telah teruji oleh waktu dan tempat.

Dengan ditegaskannya di awal surat Al Baqoroh oleh Allah “Bahwa Kitab (Al-Qur-an) benar-benar tidak ada yang perlu diragukan sebagai petunjuk bagi Orang-orang yang muttaqin” nampaknya Al Qur-an ingin menunjukkan antisipatifnya terhadap “keragu-raguan” umatnya yang bakal terjadi kemudian. Dalih keraguan mereka adalah, Islam hanya berupa Opsesi-konseptual yang rasial dan sektarian, Islam bukan idiologi universal, tertutup, eklusif atau Islam ibarat baju yang kurang longgar, tidak global dan tidak mendunia. Kebanyakan dari kita masih menganggap bahwa kedamaian Islam (rahmatan lil alamin) tidak bisa menembus lintasan benua, negara, suku ataupun apa namanya yang berseberangan dengan nilai-nilai Islam (Agama lain).

Dengan perlahan namun pasti, konsep-konsep, idiologi-idiologi, isme-isme (faham-faham) yang semula berdirinya dianggap penolong bagi kedaulatan dan kemanusiaan, lebih unggul dari patern Islam (nilai haqiqi Islam) malahan runtuh karena kelemahannya sendiri, yang nota bene bukan serangan atau ancaman dari luar sistemnya.

Seorang Francis Bacon dalam “New Atlantis-nya” berusaha meyakinkan kita bahwa sain harus mampu melampui agama dan pengetahuan ilmiah akan melimpahkan karunianya atas kesempurnaan manusia untuk mengendalikan kekuatan alam. Kenyataannya dengan hanya pengetahuan ilmiah kemakmuran tidak kunjung menjanjikan. Akhirnya sampai pada abad pencerahan (renaisance) agama menjadi pusaka lama yang dicari, mereka menyadari kepincangan dalam kehidupannya.

Satu sepertempat abad yang lalu, Marx muncuk dipanggung Eropa dengan Das Kapital-nya dan mengetengahkan idenya tentang Manusia Ekonomis. Ia meyakinkan kita untuk menghapuskan kaum aristokrasi kapitalis, dan setiap jejak ketidak-adilan sosial serta eksploitasi manusia akan sirna. Karena pemahaman ketidak-adilan yang kurang menyentuh nurani kemanusiaan serta sudut pandangnya mengenai makhluk yang bernama manusia tidak benar, maka Marxisme mulai ditinggalkan pengikutnya.

Lalu Sigmuend Frued datang untuk menjelaskan kepada kita bahwa kita harus meninggalkan batasan-batasan sosial atas prilaku-prilaku seksual agar terbebas dari perasaan malu dan larangan, menghilangkan kecemasan. Prilaku yang demikian menurut Frued akan menyembuhkan tekanan jiwa dan penyakit jiwa dalam masyarakat. Kebebasan seksual akan menyembuhkan, demi kebahagiaan universal dan ketentraman jiwa, katanya.

Contoh-contoh tersebut bukan sekedar contoh konsepsi yang tidak tahan diuji oleh waktu dan tempat, namun lebih memberi isyarat betapa rapuhnya nilai-nilai yang dibuat manusia menjadi simpul pengikat manusia agar menjadi baik, bila bukan berasal dari nilai-nilai yang Maha Kuasa, Sang Pencipta Manusia itu sendiri.

Wal hasil, dengan demikian tatanan keluarga, masyarakat dan negara atau dunia sekalipun, secara tidak langsung adalah konsepsi tentang manusia. Maka tidak ada konsep lain yang lebih bisa memahami tentang manusia, kecuali kita gali dari Sang Pencipta Manusia.

Islam : Idiologi universal dan Komprehensip

Al Qur-an merupakan rujukan dan referensi dari totalitas kehidupan manusia, baik diniawi ataupun ukhrowi. Islam bukan suatu agama yang perlu ditakuti, hanya orang-orang yang berprilaku menentang fitrah manusia yang patut benci terhadap Islam, karena kedzaliman, keserakahan, kesewenang-wenangan tidak akan mendapat tempat dalam Islam. Dengan demikian Islam sebagai idiologi tidak akan membahayakan siapapun yang beriktikad baik (QS. Al Maidah ayat 8). Karena sumber pemikiran Islam adalah : a. Alam b. Sejarah c. Jiwa (fitrah) manusia.

Dalam tafsir Al Qur-an, Al Mizan, Allamah Thabathaba’i mengatakan, bahwa : setiap penelaahan mendalam atas keadaan alam semesta menjukkan bahwa manusia, sebagai bagian dari alam semesta , akan mewujudkan kesempurnaan puncaknya di masa mendatang. Pernyataan Al Qur-an bahwa tegaknya Islam di dunia merupakan suatu kemestian, hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan bahwa manusia, pada akhirnya, akan mencapai kesempurnaan penuh.”

Al Qur-an dalam surat Al Ma’idah ayat 54 mengatakan :

………barangsiapa diantara kamu berpaling dari agamanya, maka (ketahuilah bahwa sebagai gantinya) Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya (untuk menyampaikan dan menegakkan agama Allah). (QS. 5:54)

Sesuai dengan tujuan penciptaannya, Allah berfirman dalam surat Annur ayat 55:

“Allah telah berjanji kepada kamu yang beriman dan berbuat kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan kamu pewaris-pewaris di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka, dan sungguh bahwa Dia akan meneguhkan agama mereka bagi mereka yang telah diridhoi-Nya bagi mereka, dan akan memberi mereka keselamatan, sesudah mereka berada dalam ketakutan (dengan menghancurkan musuh-musuh mereka). Mereka tetap mengabdi kepada-Ku dan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku…. “(QS. 24:55)

Islam memberi rambu-rambu yang jelas dalam menentukan kebijakan berkait dengan segala hal, termasuk mengurus masyarakat dan negara. Sehingga tidak terjebak pada kelemahan-kelemahan manusiawi, diantaranya :

1. Mengandalkan persangkaan daripada ilmu dan kepastian (QS. 6:116)

“Dan janganlah kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”(Surat Al An’am ayat 116)

2. Hasrat dan Kecondongan (bias) pribadi

Demi penilaian yang benar, seseorang mesti terus memelihara sikap tidak memihak ketika memikirkan sesuatu.

3. Ketergesa-gesaan

4. Tradisionalisme dan Obsesi masa lampau (QS. An Nisa’ ayat 170)

5. Penyembahan (pemujaan) kepada Hero (QS. Al Ahzab ayat 67)

“ Ya Tuhan kami …… kami ini hanya mengikuti pemimpin pemimpin dan pembesar-pembesar kami, hingga kami tersesat begini ……”

INDONESIA BARU, BARU BERHAYAL

Bagiamanapun kondisinya saat ini, kita tidak boleh menutup mata terhadap upaya-upaya bangsa Indonesia mewujudkan negara maju melalui berbagai cara dan dari segi apa saja. Dalam mempersiapkan masa depan untuk meningkatkan kehidupan material masyarakatnya, implikasi proses modernisasi terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Pembangunan ekonomi membuka diri terhadap investasi asing. Pada gilirannya membuka kemungkinan adanya jalinan dunia usaha dengan kapitalisme dunia seperti yang dicerminkan dalam istilah “multi corporation”. Hasil pertumbuhan ekonomi sangat pesat dengan banyaknya investasi asing yang menanamkan modal di Indonesia. Namun demikian usaha pemerintah orde baru ini kurang memperhatikan kepentingan rakyat secata umum dan lebih nampak karena tekanan kepentingan kelompok tertentu saja. Sehingga realitas yang nampak pertumbuhan ekonomi terkesan maju dengan pesat akan tetapi kurang memberikan dampak yang berarti pada lapisan masarakat menengah ke bawah.

Hasilnya, kamuflase (penipuan) pertumbuhan ekonomi yang nampak dipermukaan itu adalah runtuhnya sendi-sendi bangsa yang berawal dari kesenjangan dan kecemburuan antar strata sosial masyarakat dibidang ekonomi khususnya. Disamping itu, terakumulasinya (menumpuknya) kekecewaan, pengekangan dan penindasan dalam “aspek-aspek tertentu” secara birokratis dan sistematis selama empat windu menjadi pemicu paling beralasan kerusuhan yang terjadi selama ini.

Namun demikian, kita harus fahami juga, bahwa gejolak yang terjadi di negeri kita ini adalah terjadinya dekadensi (kebejadan) moral dari sebagaian besar warga kita sendiri disamping unsur pemerintah yang tidak amanah. Artinya situasi spiritualime yang seharusnya mampu meredam dan menjadi pengawas yang paling independen bagi kita dalam hidup bermasyarakat dan bernegara semakin kita tinggalkan.

MASALAH-MASALAH KRUSIAL

Pertama, Hiterogenitas bangksa kita memang tidak dapat kita pungkiri. Baik secara geografis, budaya, Suku dan Agama. Kondisi ini satu sisi bisa menjadi potensi yang sangat besar bagi kemajuan dan hazanah kekayaan bangsa. Di lain pihak memilki kerawanan yang tinggi timbulnya kontra sosial yang delematis bagi aparat pemerintah. Dalam hal ini kita tidak bisa memaksakan terkikisnya nilai-nilai kedaerahan dan hilangnya integritas suatu kelompok agar berbaur tanpa identitas, karena secara psikologis suatu saat akan timbul penumpukan fanatisme yang berlebih lalu meledak tak terkendali. Kondisi ini harus disikapi dengan menimbulkan rasa saling ketergantungan antar kelompok tanpa penafikan identitas kelompok lain. Dengan demikin kita tetap memberikan porsi yang luas bagi komunitas tersebut untuk berkembang dan saling berintegrasi dengan semua kelompok.

Kedua, transformasi budaya merupakan konsekwensi logis dari proses modernisasi yang sedang berlangsung di Indonesia. Hal ini disamping membawa akibat-akibat positif, juga negatif bagi kehidupan bermasyarakat. Proses ini umpamanya membawa masuk materialisme (pendewaan terhadap materi) yang mendorong kecenderungan hidup individualistis (tak peduli kepentingan orang lain) dan hedonistik (yang penting enak). Apabila kemajuan ini tidak dicerna sebagai hal yang positif dan didukung oleh aturan moral yang sesuai dengan bangsa ini, maka permasalahan selanjutnya ialah mempengaruhi presepsi keagamaan mereka. Agama akan dipertanyakan apakah mampu menjawab tantangan kehidupan modern.

Ketiga, Anggapan yang kerliru terhadap peran keagamaan, yang dianggap sebagai kendala mewujudkan negara maju, demokratis dan liberal, dengan mengendorkannya fanatisme kelompok dan keagamaan. Kita harus memahamkan agama sebagai kontrol individu yang memiliki dampak prilaku etis, bermoral dan bertanggung jawab dengan memfilter jenis kemajuan yang sesuai dengan nilai-nilai kita sendiri. Yang terjadi pada masa-masa lalu adalah pemerintah melakukan “Depolitisasi Islam” (pelemahan kekuatan politik Islam) yaitu seperti ditunjukkan oleh terhilangnya lambang-lambang keislaman dari pentas politik dan tiadanya lagi partai-partai politik islam. Hal ini membawa akibat berkurangnya jalur artikulasi kepentingan politik umat Islam yang mayoritas.

Keempat, Masalah pendidikan merupakan masalah yang dianggap paling penting dalam program pembangunan menyiapkan sumberdaya manusia Indonesia. Untuk itu usaha-usaha pemerintah dalam meningkatkan pendidikan ditempuh dengan berbagai macam program. Misalnya, wajib belajar sembilan tahun, program pelatihan dan pendidikan yang hanya berorientasi dunia usaha, yang disebut Link and Macth (Keterkaitan dan kesepadanan). Sehingga menimbulkan hilangnya kultur dan jati diri antara kebutuhan pasar dan pembangunan manusia seutuhnya.

Kelima, Rekruitmen (penjaringan) sumberdaya manusia sebagai pembuat kebijaksanaan dan kesempatan memperoleh kerja. Masalah ini menjadi penting karena berkaitan langsung dengan kwalitas kebijakan dan wawasannya. Untuk mewujudkan Indonesia baru nampaknya akan lebih sulit apabila tidak terlebih dahulu dibenahi aparat dan sistem pemerintahannya. Yang mana fungsi pemerintah selama ini lebih banyak sebagai administrator dari pada agen pembangunan. Pemerintah masih belum sepenuhnya terbuka dalam menetapkan kebijaksanaan. Hal ini akan mengurangi partisipasi masyarakat untuk mendukung program-program yang bertajuk kemajuan.

MENTAL RASIAL CITA-CITA GLOBAL : Sebuah Renungan Generasi Islam

Saya masih terobsesi oleh cerita salah satu guru saya, bahwa betapapun tingginya cita-cita, mentalitas kita harus lebih tinggi darinya. Alkisah, seorang warga Afrika yang bertanah tandus memimpikan negeri makmur subur. Ironisnya ia belum pernah melihat rupa tanah yang subur, belum pernah terlintas dibenaknya bagaimana hijau dan rindangnya pepohonan, dia juga belum pernah menyaksikan hamparan savana (rerumputan). Dalam benaknya tidak mempercayai ada tanaman yang bisa hidup tanpa di rawat, karena sepanjang hidupnya yang ditemui hanyalah tanah tandus dan gundul. Secara kebetulan ia bertemu dengan saudagar dari negeri Tropis, yang kaya akan tetumbuhan. Lalu ia ceritakan semua cita-citanya, dan keinginannya melihat tanah surga di negeri tropis yang diceritakan rekannya sembari tidak percaya.

Melalui jalan udara, sang saudagar mengajak teman Afrikanya melihat negrinya dari angkasa. Diluar dugaan sang saudagar, teman dari tanah tandus itu mendadak sok setelah melihat rimbunya hijau dedaunan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Rupanya Sang Afrika belum cukup mental untuk melihat dunia luar dan perbedaan apapun dengan negerinya. Terlepas dari kebenarannya, patutlah kiranya kemungkinan itu menimpa pada diri kita.

Walau tidak separah contoh cerita di atas, nampaknya masyarakat negeri kita dengan kebebasan berlebel “reformasi” menjadi lebih leluasa memikirkan masa depan sejarahnya. Masyarakat kita mencoba menyambut gayut globalisasi di segala bidang dengan caranya masing-masing. Yang lebih penting lagi adalah kesiapan negeri kita menghadapi persaingan bebas. Sementara kita masih disibukkan dengan persoalan dalam negeri.

Masyarakat kita hampir secara serentak semuanya meneriakkan kebebasan, kemerdekaan dan demokrasi. Suatu cita-cita yang luhur. Namun sadarkah kita dibalik ucapkan itu, secara sporadis diantara kita ada yang tidak bisa menerima kebebasan orang lain, kemerdekaan orang lain dan dengan sengaja atau tidak sengaja telah mematikan demokrasi orang lain.

Partai politik yang tumbuh, seperti jamur di musim hujan hampir semuanya menyuarakan secara koor tentang keadilan, demokrasi, partai untuk semua kalangan, lintas suku, litas ras lintas agama, demi rakyat demi bangsa. Namun prakteknya mereka saling baku hantam antar pendukung partai, saling mencurigai, emosional dan fanatisme golongan dan sikap-sikap irasional yang ditonjolkan.

Yang paling ironis, kita hampir sepakat bahwa melemahnya sendi-sendi negara kita adalah bermula dari sikap kultus individu terhadap seorang pemimpin, dan kita bangga telah lepas dan terbebas darinya. Akan tetapi sebaliknya kita kini “seolah-olah” mencari sosok lain yang bisa dikultuskan, dianggap tidak pernah salah, tidak mungkin keliru, tidak perlu dikritik, bahkan jangan dikritik. Kemudian jalan pintasnya adalah mencari pembenaran-pembenaran sefihak, mencari dalil-dalil yang bertujuan membenarkan pribadi dan sosok yang dikultuskan dengan menyebutnya Wali, reformis atau yang lain, bukan tujuan keagamaan yang sebetulnya lebih mulya dan abadi. Kita menjadi bertindak irasional, menganggap orang yang berbeda menjadi musuh. Padahal untuk menentukan musuh atau tidak, menurut saya sebagai orang Islam yang masih belajar memahai Islam secara utuh adalah orang-orang yang menghalangi kita dalam menegakkan nilai-nilai Islam. Orang-orang yang tidak mau dilandasi kehidupannya dengan Al Qur-an.

Sebetulnya sikap fanatisme bukan hal yang buruk, bahkan kita dianjurkan oleh Islam mana kala sandaran fanatisme kita adalah agama itu sendiri. Karena kita meyakininya sebagai konsep tanpa salah yang selalu berorientasi pada tujuan penciptaan manusia, yaitu kesempurnaan manusia.

Dalam sruat An Nisa’ ayat 75 disebutkan :

“Mengapa kamu tak berjuang demi Allah sedang di tertindas di antara laki-laki, wanit dan anak-anak, berkata “ Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kota ini yang orang-orangnya penindas, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”

Jika demikian adanya, rupa-rupanya mental kita masih lebih rendah dari cita-cita kita dan slogan-slogan yang kita ucapkan secara arogan. Dan itu berarti secara mental kita belum siap menerima perbedaan.

PAMUNGKAS

Kebangunan Islam tidak mudah terwujud, tetapi yang harus kita yakini sebagai fakta sejarah adalah Islam mampu merubah kehidupan bangsa yang menyandang segala kejelekan dengan prediket “paling “, yaitu bangsa Jahiliyah, menjadi bangsa teladan dalam waktu yang teramat singkat, 23 tahun.

Persoalannya adalah mampukah kita mengaktualisasikan (menjabarkan) nilai-nilai mutlak tersebut dalam kehidupan keseharian kita. Sehingga propaganda Barat yang menyudutkan Islam sebagai agama yang menentang demokrasi, menindas hak asasi manusia dan sebagainya menjadi sirna oleh bukti nyata nilai ilahi tersebut.

Untuk generasi Islam Yakinlah…!

 
Banner
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow