Home Opini

Pengunjung Online

Saat ini 2 guests online

Jumlah Pengunjung

Anda Pengunjung ke : 26637

Terimakasih

Kami Atas nama pengelola situs ponpeskarangasem.com mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan semua yang telah mengirimkan artikelnya. Semoga apa yang kita lakukan dapat bermanfa'at untuk umat. amin......

QUICK COUNT

Hasil Perhitungan Ulang

Hasil Final Perhitungan ulang

1. Sahabat 95.036 Suara/14,45%

2. Obama 40.449 Suara/6,17%

3. Faham 268.798 Suara/40,98%

4. Sehati 251.935 Suara/38,41%

Sumber : tanggal 11 Juli 2010

 

 

Pendaftaran 2010/2011

Jumlah Sementara Pendaftaran Siswa Baru

Tanggal : 10 Juli 2010

Jam       : 12:18 WIB

- MTsM 02 75 Siswa

- SMPM 14 110 Siswa

- MAM 01 54 Siswa

- SMAM 06 175 Siswa

- SMKM 08   140 Siswa

Sumber :

Panitia Pendaftaran 2010-2011

 
Banner
O p i n i
PDF Print

Kebiasaan Pasal Karet (KPK)

Oleh : Zainal Muttaqin

 Sekarang ini, ada bahasan hangat mengenai Pasal Karet yang membuat anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa mental oleh hukum. Saking seringnya mendengar para pakar bertutur lewat telivisi dan radio, saya yang awam soal hukum sampai juga pada pemahaman yang mungkin saja bisa salah, bahwa Kekeliruan Tindakan yang dilakukan oleh seseorang maupun institusi dan telah menjadi tradisi  sebelumnya membuat pasal-pasal hukum yang kita miliki menjadi tumpul, mental dan bahkan bisa berbalik menjerak penjeratnya. Sedangkan di negara kita ini memiliki banyak "tradisi" dan budaya yang telah mengakar sejak nenek moyang kita, yang telah menjadi tradisi secara turun temurun, terlepas itu salah atau benar dimata hukum. Namun itulah kenyataan tradisi bangsa ktia. Bahkan konon dari nilai-nilai "lulhur" nenek moyang itulah kita ambil dan maknai dasar negara kita sebagai warisa nenek moyang kita.

Persoalannya, keluhuran nilai budaya dan tradisi tidak semuanya dapat ditempatkan atau disandarkan pada seluruh daerah bangsa ini, disatu tempat prilaku tertentu dianggap luhur, bisa jadi ditempat lain menjadi aib. Bahkan pada lapisan masyarakat yang berbeda sekalipun dalam satu daerah bisa berbeda standar keluhurannya. Implikasinya tradisi dan budaya memilki sub-ordinat untuk memberikan makna keluhuran sebuah tradisi menjadi tergantung tingkatan secara pranatis.

Di desa saya misalnya, ada satu dusun yang memiliki budaya tepat waktu, acara atau undangan apapun selalu dimulai tepat waktu.  Mulai acara nikahan, sunatan atau hajatan-hajatan lain. Sedangkan dusun selebihnya memiliki budaya kebanyakan masyarakat Indonesia, yaitu lebih suka dengan tambahan waktu, molor alias "ngaret". Tradisi "ngaret" ini bisa jadi tergolong luhur, sebab orang yang tepat waktu saat undangan "kenduren" atau nikahan dipandang terlalu "semego" alias rakus dan "dromos",  yang berkonotasi  bahwa pikiran orang tersebut hanya makan. Sehingga dimasyarakat, nampaknya lebih "luhur" ngaret dari pada datang tepat waktu apalagi datang terlalu awal.

"Nanti saja, paling masih sepi" , bukan jawaban yang asing manakala kita mengajak bergegas teman kita mendatangai suatu Undangan. Semua undangan memiliki pikiran yang sama, akibatnya tempat acara tidak akan pernah dipenuhi undangan dengan cepat. Kecuali ada diantara kita yang memulai menempati tempat yang telah disediakan. Tempat undangan sepi karena belum ada satupun orang yang datang, sementara yang lain enggan datang karena menunggu kedatangan satu yang lain, akhirnya saling menunggu. Saling mendukung terciptanya jam karet.

Indonesia sebagai bangsa yang luas secara teretorial harus berbangga dengan keanekaragaman budaya dan seninya. Budaya yang bisa dipatenkan adalah "Jam Karet", tentu ini lebih mudah dari pada mematenkan produksi dari hasil budaya tarian "pendet" atau kerajinan "batik".  Dan ternyata Jargon "karet"  akhirnya juga berguna bagi KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) dengan istilah "Pasal karet", karenanya KPK bisa terbebas dari jeratan hukum lantaran  kekeliruannya telah menjadi "tradisi oleh generasi Sebelumnya".

 
PDF Print

PROSPEK KEBANGUNAN ISLAM

SEBUAH IDIOLOGI ALTERNATIF-KOMPREHENSIF MENUJU INDONESIA BARU

OLEH : Zainal Muttaqin

IDIOLOGI POLITIK : SEBUAH WACANA DALAM ISLAM

Ironisme umat Islam sa’at ini adalah ketakutannya pada nilai-nilai kebenaran agamanya sendiri (Islam pobhi). Ia enggan menyuarakan kebenaran yang tertuang dalam asas dasarnya, Al Qur-an. Lebih bangga dan percaya diri jika mempropagandakan nilai-nilai kebenaran kontemporer dan kondunsif yang seraya berkelakar lebih benar dari nilai-nilai Islam yang sudah nash. Jika bukan ketakutan, paling tidak umat Islam kebanyakan telah kehilangan jati dirinya dengan malu mengatakan “saya adalah Muslim”, ini merupakan degradasi moral kaum muslimin menuju kehancuran Islam yang terluang. Padahal ke-absolutan (kemutlakan) nilai-nilai Islam yang telah teruji oleh waktu dan tempat.

Selengkapnya
 
PDF Print

AL QUR-AN

DALAM DINAMIKA KEHIDUPAN MANUSIA *

(Sebuah Keniscayaan Manusia dalam Hidup)

Oleh : Zainal Muttaqin

 AL Qur-an dan Kemu’jizatannya

 Al qur-an merupakan mu’jizat terbesar dari sekian banyak mu’jizat yang dimiliki Nabi Muhammad untuk membuktikan kerasulannya. Selain Al qur-an, mu’jizat para Nabi itu terikat oleh tempat dan masa --terikat oleh masa Nabi waktu itu-- sehingga  mu’jizat itu berlaku secara lokal dan temporer, hanya dapat dinikmati oleh para pengikutnya waktu  itu saja. Berbeda dengan Al Qur-an, semua umat sesudahnya dapat mempelajari, menyaksikan, menguji dan membuktikan kemu’jizatannya, baik secara tekstual maupun konstektual. Untuk membuktikannya dirinya sebagai produk yang original dan Absolut Al qur-an siap diuji dari segala aspek disiplin ilmu dan kehidupan.

Selengkapnya
 
PDF Print
User Rating: / 1
PoorBest 

Mantepz Yo'i

Bagus KA wis duwe website dewe... tapi masih agak mmbingungkan.. klo bis di rapikan lagi link-linknya biar tambah enak accessnya... trus kalo bisa punya wartawan dan editor berita sendiri (webmaster + Cameraman getu) yg khusus mengelola berita setiap ada acara di KA. terus berita yg di upload ada gambarnya + galleri setiap acara.  maju terus  KA.  BS.

 
 
PDF Print

Journalism in English for Islamic Boarding School of Karang Asem

Having an ability to make good writings is really important as it helps you convey what\'s in your mind more clearly and effectively. Writing is just another form of communication. People communicate using spoken language, body gesture, and (here it is) written language, providing a clearer understanding and organised thoughts. This, in fact, is what makes language unique.

As language speakers and educated people, we have to, at least, posses enough capability to apply the last form of communication that I mentioned above, i.e. written language. It is not always easy! In order to master it, you must make a lot of practice and read a large number of books (most people love to read the books relating to their interests). I, for instance, would love to read books about journalism. And actually this is what I\'m about to tell you in this short article.

When we talk about how important journalism is, we can directly refer this situation to our needs of knowing what\'s happening either locally or internationally. All people need news. But to make a good news is another thing that we have to learn intensively. It deals with how news people write their stories, how they manage the plots, organized the bodies, and make good titles for the headlines. It requires serious learning.

To meet the need of acquiring news on what\'s going on around here, Karang Asem has really done a good job by writing informative posts on its website. But it is not just a matter of writing. Consider to make new things that this institution has never done before with its website like creating the posts in English. Or perhaps it can start its English version. As we know English is one of the most widely spoken languages in the world and if we use it as our website language, then all people around the globe will hear us.

Personally, I do encourage Karang Asem to make the English version of its webpage. It will not only let the world hear us but also help the students of Karang Asem find a new way to learn fun online English, simply by visiting Karang Asem website.

Please let me know if I can help you. I am a part time blogger and was previously the student of SMK M 8 Karang Asem, graduating in 2005. I\'m currently doing my thesis. You can reach me by visiting my blog at
http://davidkhoirul.blogspot.com (English) or
http://davidjuly.blogspot.com (Bahasa Indonesia)
 
PDF Print

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam takzim kepada keluarga besar Pondok Pesantren Karang Asem Paciran. Saya menemukan situs ini secara tidak sengaja. Ia terindeks di halaman pertama mesin pencari google ketika saya memasukkan kata kunci PonPes Karang Asem Paciran. Rupanya Karang Asem semakin maju saja. Seingat saya waktu saya masih belajar disana, ia tidak memiliki halaman situs seperti ini dan fasilitas komputernya pun tak begitu bagus. Ini sudah sangat berbeda dengan sekarang.

Sebagai salah satu alumni Lembaga ini, saya turut senang. Situs resmi seperti ini akan sangat membantu baik bagi siswa-siswanya maupun para pengajar disana. Saya usul pengelolaan situs ini diperbaharui dan dibikin lebih rutin agar kita dapat mengakses informasi tentang Karang Asem secara terupdate. Banyak situs-situs lembaga seperti ini yang hanya diperbaharui tahunan. Artinya ia hanya mengalami pengupdatean setiap satu tahun saja, atau bahkan dua, tiga, dan empat tahun.

Akhirnya saya ucap sukses selalu untuk Karang Asem.

email: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
website: http://davidkhoirul.blogspot.com
 
«StartPrev1234NextEnd»

Page 1 of 4
Banner
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow

Selintas Kabar

WISUDA PONDOK TAHUN 2010

 

Acara Tahunan di Pondok kita tahun ini diwarnai dengan berbagai kegiatan baru disamping kegiatan rutin tahunan semisal Wisuda, Pelepasan dan acara kreasi dan seni yang diselenggarakan oleh TK. Aisyiyah Bustanul Athfal Pondok Karangasem. Acara baru tersebut adalah wisuda Khusus Pondok bagi para santri yang dinyatakan lulus sesuai dengan tingkatan kelas diniyah yang diselenggarakan oleh Unit Kesantrian. Hal ini, menurut santri sangat berarti dan merupakan kebanggaan yang luar biasa, karena untuk meraih kelulusan ini harus berbekal kesungguhan dan ketekunan belajar. Menurut pembina Pondok, Fatih Futhoni, "nilai kelulusan santri merupakan nilai murni, apa adanya. Jadi Nilai diniyah adalah nilai yang dapat dijadikan ukuran senyatanya dari kemampuan siswa dalam menyerap meteri Diniyah (materi Bidang keagamaan khas Pondok Pesantren Karangasem).

Jumlah peserta wisuda tahun 2010 berjumlah 57 santri, dari jumlah tersebut sebanyak 38 santri yang memenuhi standar kelulusan dan berhak mendapatkan Ijazah Pondok, sedangkan 19 santri yang belum memenuhi standar hanya berhak mendapatkan surat keterangan Tamat belajar.

Pelaksanaan Pembelajaran diniyah di Pondok Karangasem dikondisikan agar santri benar-benar mandiri dan sungguh-sungguh dalam belajar. mulai Jadwal belajar, sistem pembelajaran, proses evaluasi dan standarisasinya telah diarahkan agar anak berkompetisi dalam meraih prestasi.

Dalam pelaksanaan Ujian Akhir Pondok (UAP), seluruh peserta ditempatkan di gedung Aula dengan jarak masing-masing antar santri  kurang lebih 2 meter dan diawasi oleh beberapa pengawas. "jadi insya Allah anak-anak mengerjakan ujian dengan kemampuannya masing-masing," kata Aqil Aziz, Panitia UAP.

 

 

 

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow