Oleh: Mufti Labib
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya / Praktisi Pendidikan
Pendahuluan: Fakultas Kedokteran di Kampus Keislaman, Sebuah Transformasi Strategis
Kehadiran Fakultas Kedokteran di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya (UINSA) bukan sekadar ekspansi akademik, melainkan sebuah lompatan besar dalam transformasi universitas berbasis keislaman menjadi world-class university yang tidak hanya unggul dalam ilmu-ilmu agama, tetapi juga dalam ilmu-ilmu eksakta dan kesehatan. Diresmikannya FKedokteran UINSA pada tahun 2021 menandai komitmen kuat institusi dalam menjawab tantangan kesehatan nasional sekaligus memperkuat posisi UIN sebagai kampus inklusif dan kompetitif.
Namun, di balik optimisme tersebut, terbentang tantangan yang kompleks dan multidimensi. Salah satunya adalah keberadaan rumah sakit asing (RS asing) di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang secara tidak langsung menciptakan persaingan tidak seimbang dalam hal kualitas pelayanan, sumber daya manusia, serta akses terhadap teknologi dan jaringan internasional. Bagi FKedokteran UINSA, tantangan ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal identitas, akreditasi, relevansi kurikulum, dan kemandirian dalam menghasilkan dokter yang kompeten, beretika, dan berakhlak mulia.
Artikel ini mengupas secara mendalam berbagai tantangan berat yang akan dihadapi FKedokteran UINSA, khususnya dalam konteks persaingan dengan RS asing, serta strategi yang perlu dikembangkan agar fakultas ini mampu eksis, unggul, dan menjadi center of excellence dalam pendidikan kedokteran berbasis nilai Islami.
Rumah Sakit Asing di Indonesia: Gejala Globalisasi Kesehatan yang Tak Terhindarkan
Dalam dekade terakhir, pemerintah Indonesia membuka keran investasi asing di sektor kesehatan melalui Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2019 tentang Penanaman Modal. Aturan ini memperbolehkan pihak asing memiliki hingga 67% saham di rumah sakit swasta, bahkan 100% di kawasan khusus seperti Bali dan Batam. Akibatnya, muncul sejumlah rumah sakit dengan manajemen asing, seperti RS Medika BSD (dengan kolaborasi Singapura), RS Premier Surabaya, dan RS Mayapada Jakarta.
RS asing ini hadir dengan keunggulan yang signifikan:
- Teknologi medis mutakhir
- Sistem manajemen berstandar internasional (JCI, ISO)
- Dokter spesialis dan subspesialis bergelar internasional
- Pelayanan yang cepat, efisien, dan pasien-sentris
Bagi masyarakat menengah ke atas, RS asing menjadi pilihan utama. Bagi dokter muda, mereka menawarkan karier yang menjanjikan. Bagi institusi pendidikan, mereka menjadi mitra riset dan pelatihan yang sangat diminati.
Namun, di sisi lain, keberadaan RS asing menciptakan ketimpangan struktural. Mereka cenderung melayani segmen tertentu, mengabaikan wilayah pedesaan, dan menarik sumber daya manusia terbaik dari sistem kesehatan nasional. Bagi FKedokteran UINSA, tantangan ini terasa dalam tiga aspek utama:
1. Kurangnya akses mahasiswa ke lingkungan klinis berteknologi tinggi
Mahasiswa FKedokteran UINSA belum bisa secara leluasa mengakses RS asing untuk praktik klinis, karena keterbatasan kerja sama dan biaya.
2. Persaingan dalam rekrutmen dosen dan tenaga medis
RS asing menawarkan gaji hingga 3–5 kali lipat dari rumah sakit pemerintah, membuat dokter lulusan terbaik lebih memilih bekerja di sana daripada menjadi dosen atau staf pengajar.
3. Tekanan untuk menyamai standar global
Masyarakat mulai mengukur kualitas dokter dari kemampuannya memberikan pelayanan setara dengan RS asing. Ini menuntut FKedokteran UINSA untuk tidak hanya mengajar ilmu dasar, tetapi juga melatih clinical reasoning, patient safety, dan evidence-based practice yang setara dengan standar global.
Tantangan Internal FKedokteran UINSA: Membangun dari Nol dengan Identitas Kuat
1. Infrastruktur Klinis dan Rumah Sakit Pendidikan
Salah satu prasyarat utama fakultas kedokteran adalah ketersediaan rumah sakit pendidikan (RSP) yang memenuhi standar Kementerian Kesehatan dan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Namun, hingga saat ini, UINSA belum memiliki rumah sakit sendiri. Praktik klinis mahasiswa masih bergantung pada kerja sama dengan RSUD Dr. Soetomo, RS Islam Siti Hajar, dan beberapa puskesmas di Surabaya.
Ketergantungan ini rentan terhadap perubahan kebijakan, keterbatasan tempat, dan beban kerja staf klinis yang sudah padat. Di sisi lain, RS asing memiliki fasilitas simulasi, skills lab, dan electronic medical records yang sangat mendukung pembelajaran modern.
Solusi strategis: UINSA perlu segera membangun Islamic Teaching Hospital yang terintegrasi dengan fakultas. Dana bisa dikumpulkan melalui wakaf produktif, zakat profesi dokter, dan kerja sama dengan BUMN atau pemerintah daerah. RS ini tidak hanya menjadi tempat praktik, tetapi juga pusat pelayanan kesehatan berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
2. Integrasi Nilai Islami: Antara Keunggulan dan Stigma
FKedokteran UINSA menawarkan keunikan: integrasi ilmu kedokteran dengan nilai-nilai Islam. Kurikulum mencakup mata kuliah seperti Etika Kedokteran Islam, Fiqh Kesehatan, dan Spiritual Care. Pendekatan ini sangat relevan dalam konteks pelayanan kesehatan yang holistik, terutama dalam kasus end-of-life care, mental health, dan informed consent.
Namun, tantangannya adalah:
- Stigma bahwa FK berbasis agama lemah secara sains
- Kurangnya referensi akademik yang menghubungkan ilmu kedokteran modern dengan konsep Islam
- Kesulitan menyeimbangkan antara keilmuan dan keagamaan dalam penilaian kompetensi
Untuk mengatasi ini, FKedokteran UINSA harus:
- Mengembangkan Islamic Medical Model yang ilmiah dan bisa diuji secara akademik.
- Menerbitkan jurnal khusus Islamic Medicine and Health Ethics.
- Melibatkan ulama dan dokter dalam penyusunan kurikulum.
Dengan demikian, nilai Islami bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi core identity yang membedakan FKedokteran UINSA dari fakultas lain.
3. Kualitas Dosen dan Pengembangan SDM Akademik
Dosen merupakan tulang punggung pendidikan kedokteran. Namun, FKedokteran UINSA masih menghadapi keterbatasan jumlah dosen tetap bergelar doktor atau spesialis. Banyak dosen mengajar dengan status kontrak atau sebagai tenaga klinis dari rumah sakit mitra.
Sementara itu, RS asing justru menarik dokter-dokter terbaik dari fakultas kedokteran negeri untuk menjadi konsultan atau staf medis. Ini menciptakan brain drain yang merugikan institusi pendidikan.
Langkah konkret yang perlu diambil:
- Program beasiswa S3 dan spesialisasi bagi dosen muda.
- Kerja sama dengan universitas Islam terkemuka (Al-Azhar, USIM, Qatar University).
- Insentif finansial dan karier yang kompetitif bagi dosen produktif.
Tanpa dosen unggul, FKedokteran UINSA tidak akan mampu menghasilkan dokter unggul.
4. Riset dan Inovasi: Membangun Budaya Ilmiah yang Mandiri
Riset adalah napas pendidikan tinggi. Namun, budaya riset di FKedokteran UINSA masih dalam tahap awal. Publikasi ilmiah dosen masih terbatas, terutama di jurnal internasional bereputasi. Padahal, RS asing rutin menjadi lokasi penelitian klinis dengan pendanaan besar dari luar negeri.
Strategi yang bisa dikembangkan:
- Fokus pada riset berbasis komunitas dan nilai Islami, seperti:
- Zakat-based health financing model
- Islamic bioethics in reproductive technology
- Spiritual healing in chronic disease management
- Membentuk Research Center for Islamic Medicine and Public Health.
- Memberikan pelatihan metodologi riset dan penulisan ilmiah secara rutin.
Dengan pendekatan ini, UINSA bisa menemukan niche riset yang unik dan berdampak sosial luas.
5. Akreditasi dan Reputasi: Menembus Standar Internasional
Akreditasi LAM-PTKes dan WFME (World Federation for Medical Education) menjadi tolok ukur mutu. Tanpa akreditasi unggul, lulusan tidak bisa bekerja di luar negeri atau mengikuti program spesialisasi kompetitif.
FKedokteran UINSA harus memenuhi semua standar:
- Rasio dosen-mahasiswa
- Kualifikasi dosen
- Fasilitas laboratorium dan perpustakaan
- Sistem penjaminan mutu internal
RS asing, meskipun bukan institusi pendidikan, sering menjadi acuan karena standar pelayanannya setara dengan rumah sakit di negara maju. Ini menuntut FKedokteran UINSA untuk tidak hanya memenuhi standar, tetapi melampaui ekspektasi.
Rekomendasi:
- Bentuk tim khusus akreditasi yang bekerja secara intensif.
- Lakukan internal audit berkala.
- Libatkan konsultan akreditasi internasional.
6. Tantangan Sosial: Membangun Kepercayaan Publik
Masyarakat masih ragu terhadap fakultas kedokteran baru, terlebih yang berbasis agama. Ada anggapan bahwa lulusannya lebih “alim” tapi kurang kompeten. Padahal, sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa ilmu kedokteran pernah berkembang pesat di dunia Islam (Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Zahrawi).
FKedokteran UINSA harus membuktikan bahwa dokter lulusannya:
- Kompeten secara klinis
- Beretika tinggi
- Mampu bekerja dalam sistem kesehatan pluralistik
Upaya yang bisa dilakukan:
- Publikasi prestasi mahasiswa (juara lomba klinik, peserta pertukaran mahasiswa).
- Kolaborasi dengan IDI, PERSI, dan organisasi kesehatan lain.
- Program pengabdian masyarakat yang masif dan terukur.
Kesimpulan: Menuju Dokter Ulul Albab yang Berkompetensi Global
FKedokteran UINSA berdiri di persimpangan antara idealisme keislaman dan realitas globalisasi kesehatan. Di tengah dominasi RS asing dan ketatnya persaingan akademik, fakultas ini dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga unggul dengan identitas yang kuat.
Tantangan yang dihadapi memang berat: dari infrastruktur, SDM, riset, hingga kepercayaan publik. Namun, tantangan ini juga merupakan peluang untuk berinovasi, berbeda, dan menunjukkan bahwa pendidikan kedokteran di Indonesia bisa lahir dari berbagai latar belakang, termasuk keislaman.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, FKedokteran UINSA dapat menjadi role model pendidikan kedokteran berbasis karakter, ilmu, dan rahmatan lil ‘alamin. Karena di tangan dokter-dokter muda yang lahir dari rahim UINSA inilah, masa depan kesehatan Indonesia—yang adil, manusiawi, dan bermartabat—akan ditentukan.
---
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Pedoman Akreditasi Fakultas Kedokteran. Jakarta.
2. World Federation for Medical Education (WFME). (2020). Global Standards for Quality Improvement in Medical Education.
3. UIN Sunan Ampel Surabaya. (2022). Dokumen Kurikulum FKedokteran UINSA.
4. Peraturan Presiden Nomor 69 Tahun 2019 tentang Penanaman Modal.
5. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). (2023). Panduan Akreditasi Program Studi Kedokteran.
6. Albar, M. (2021). Etika Kedokteran dalam Perspektif Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo.
7. WHO. (2022). Strengthening Medical Education in the Southeast Asia Region.
8. Pusat Data dan Informasi Kemenkes. (2023). Profil Rumah Sakit di Indonesia.
---
Penutup
Fakultas Kedokteran UINSA bukan sekadar fakultas baru. Ia adalah simbol bahwa ilmu pengetahuan dan nilai keislaman bisa berjalan beriringan. Di tengah arus globalisasi kesehatan, UINSA harus terus berdiri tegak dengan prinsip: ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, dan pelayanan yang adil. Karena dokter sejati bukan hanya yang bisa menyembuhkan penyakit, tetapi juga yang mampu menyentuh hati, mengangkat martabat, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Penulis: Mufti Labib, MCL
Dosen ,UIN Sunan Ampel Surabaya
Peneliti Pendidikan Kesehatan Berbasis Nilai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar