Kamis, 30 April 2026
# Kajian Rutin Malam Jumat Masjid Fahd Turki At Turki Bersama Ust. Alfin Noor S.Ag
Kamis, April 30, 2026Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi binikmatihi tatimmus sholihan. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu, la nabiyya wala rasula ba'dah.
Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sampai malam hari ini masih melimpahkan berbagai macam kenikmatan kepada kita. Dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut, kita semua dapat berkumpul dalam majelis yang semoga diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ini. Amin.
Selawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Semoga selawat senantiasa tercurah kepada keluarga-keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan orang-orang yang setia berjalan di atas naungan sunah beliau.
## Indikasi Diterimanya Amalan Setelah Ramadan
Jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, malam ini atau hari ini, kurang lebih sudah satu bulan kita semua ditinggalkan oleh bulan Ramadan. Hal yang paling penting setelah kita semua bisa melewati bulan Ramadan, setelah kita bersungguh-sungguh beribadah, berpuasa Ramadan, membaca Al-Qur'an, melaksanakan salat qiamullail, bersedekah, dan ibadah-ibadah yang lain, setelah kita totalitas dalam mengerjakan semua amal ibadah itu, yang harus kita pastikan selanjutnya adalah apakah semua amalan tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dari mana kita bisa mengetahui bahwasanya amalan-amalan kita di bulan Ramadan yang lalu sudah diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala? Salah satu indikasi yang disebutkan oleh para ulama, bagaimana seseorang mengetahui apakah amalannya diterima atau tidak, adalah ketika dia selesai atau telah melewati suatu kebaikan, setelah itu dia masih bisa melakukan kebaikan tersebut. Jadi, ketika kita kemarin sudah melewati bulan Ramadan, berbagai macam ibadah sudah kita kerjakan di bulan Ramadan, ketika kita masih bisa mengerjakan ibadah-ibadah tersebut di luar bulan Ramadan, maka itu adalah salah satu indikasi amal ibadah kita semua diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Surah Ar-Rahman: 55:60)
Karena amal yang baik atau amal yang buruk itu sifatnya menarik saudaranya. Ketika sebelumnya kita sudah terbiasa melaksanakan amalan-amalan yang baik, maka insya Allah seterusnya kita akan mudah untuk melaksanakan amal-amal yang baik. Namun, ketika kita sudah terbiasa melaksanakan amal-amalan yang buruk, insya Allah akan sulit untuk berubah, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
## Ujian Hidup: Mengapa Allah Menguji Kita?
Jemaah yang dirahmati Allah, malam ini kita akan sedikit mengkaji pembahasan tentang ujian. Bukan ujian UTS atau UAS, tetapi ujian hidup. Mungkin biasanya di malam Jumat kita mengkaji kitab *Minhajul Muslim*, betul? Sekarang kita akan beralih sementara ke kitab *Adda Waddawa*, penyakit dan obatnya. Pembahasan yang akan kita bahas pada malam hari ini, insya Allah, adalah berkaitan dengan ujian. Kenapa Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji kita? Apa tujuan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kita ujian yang bertubi-tubi, yang tidak selesai-selesai? Dan apa hikmahnya? Kemudian bagaimana kita menghadapi ujian yang Allah berikan?
### Tujuan Ujian Menurut Imam Ibnu Qayyim
Jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, Imam Ibnu Qayyim mengatakan:
فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْتَلِ لِيُهْلِكَ النَّاسَ، وَإِنَّمَا ابْتَلَاهُ لِيَمْتَحِنَ صَبْرَهُ وَعُبُودِيَّتَهُ
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah menguji seorang hamba atau memberikan ujian kepada seorang hamba untuk membinasakannya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji seorang hamba untuk menguji kesabarannya dan ibadahnya. (Imam Ibnu Qayyim, *Ad-Da' wa Ad-Dawa'*)
Kenapa *wa ubudiyatahu*? Karena banyak sekali orang-orang yang ketika diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukannya dia semakin mendekat kepada Allah, tetapi dia semakin menjauh dari Allah. Ketika dia diuji dengan sebuah ujian, dia malah semakin malas untuk melaksanakan salat. Salatnya bolong-bolong, jarang salat berjamaah di masjid, tidak pernah berdoa meminta pertolongan kepada Allah. Ibadah-ibadah yang lain ditinggalkan. Dia fokus dalam pikirannya, dia fokus untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi dengan cara melupakan Sang Maha Pemberi Solusi.
### Kesabaran Menjadikan Ujian Indah
Makanya poin pertama yang bisa kita petik dari perkataan Imam Ibnu Qayyim, "Fasobru yajalul ibtila syaiun jamil." Poin yang pertama, ketika seorang hamba bisa sabar menghadapi ujian, kesabaran itu akan menjadikan ujian tersebut menjadi sesuatu yang indah. *Biantamasaka nafsaka walisanaka wa asobiaka, madama anna syahso yurid, walaisa annahu yastati'a*. Karena dia mau menahan lisannya, menahan tangannya, menahan perbuatannya dari hal-hal yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Terkadang orang ketika diuji, bukannya malah mendekat dan meminta pertolongan kepada Allah, akan tetapi malah marah-marah kepada Allah. Dan orang yang beriman, orang yang bisa sabar menghadapi ujian, dia mau untuk menahan lisannya, tangannya, dan perbuatannya dari marah-marah dan memaki takdir. Karena sebenarnya semua orang itu kan sudah ditakar.
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Surah Al-Baqarah: 2:286)
Allah tidak akan memberikan ujian kepada seorang hamba, kecuali Allah melihat bahwasanya hamba tersebut mampu menanggung dan melewati ujian tersebut. Maka ketika kaidahnya seperti itu, berarti semua orang di dunia ini bisa melewati ujian yang Allah berikan. Akan tetapi pertanyaannya, apakah dia mau atau tidak? Apakah dia memilih untuk berusaha menyelesaikan masalah itu dan memohon pertolongan kepada Allah, atau dia sibuk menyalahkan keadaan, atau dia sibuk pasrah, pasrah dalam arti yang negatif? Dia mencela takdir, mencela keadaan, mencela dirinya sendiri, banyak merenung, meninggalkan perintah-perintah Allah, dan menerjang larangan-larangan Allah. Maka ini adalah poin yang pertama. Seorang hamba ketika bisa sabar menghadapi ujian Allah, di mata hamba tersebut ujian akan menjadi indah.
### Ujian Sebagai Pembuktian Kesabaran
*Wa idza lam yakun hunaka al ibtina. Falbaki anna kullan nasi yaqulu annahu shobir.* Ketika di dunia ini tidak ada ujian, maka semua orang pasti akan mengaku bahwasanya dirinya adalah orang yang sabar. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Surah Al-Mulk: 67:2)
Allah adalah Zat yang menciptakan hidup dan mati, menciptakan manusia, mengirimkan manusia ke muka bumi ini untuk menguji mana manusia yang paling baik amalannya. Dan ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah berfirman seperti itu, maka manusia pasti akan berlomba-lomba untuk mengklaim, mengaku-ngaku bahwasanya dia termasuk orang yang paling baik amalannya, orang yang paling sabar. Dan bagaimana cara membuktikannya? Maka Allah mengirimkan ujian. Makanya salah satu tujuan, salah satu misi kita hidup di muka bumi ini adalah beribadah. Dan salah satu ibadah adalah melewati apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada kita dalam bentuk ujian.
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? (Surah Al-Ankabut: 29:2)
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja setelah mereka mengatakan, "Aku sudah beriman," dan mereka tidak perlu diuji? Ini adalah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Karena konsekuensi ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin menyaring orang-orang yang paling baik amalnya, orang-orang yang sabar untuk dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka Allah akan memberikan ujian. Makanya ayat tadi mengatakan, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan ditinggalkan begitu saja setelah mereka mengatakan, 'Saya beriman,' dan mereka tidak diuji?" Seperti itu.
وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Surah Al-Ankabut: 29:3)
Kemudian ayat yang selanjutnya mengatakan, "Dan sungguh Allah telah menguji orang-orang sebelum kita." Maka kemudian Allah akan mengetahui dari orang-orang yang diuji itu mana orang-orang yang jujur, yang lulus, dan mana orang-orang yang gagal dalam menghadapi ujian tersebut. Mana orang yang hanya mengklaim atau mengaku-ngaku bahwasanya dirinya adalah orang yang sabar.
### Kesabaran Harus Sesuai Syariat
*Fasobru la yalzamu an yaskuta, walakin yalzamu an yakuna ala thoriqotillah.* Maka kesabaran itu, jemaah yang dirahmati Allah, tidak harus kita itu mengumbar-ngumbar kesabaran kita. Tidak melulu cara kita melewati ujian yang diberikan oleh Allah itu caranya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi yang paling penting ketika kita menjalani atau melewati ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala itu adalah *ala thoriqotillah*. Bagaimana kita menghadapi ujian tersebut sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, tidak keluar dari koridor syariat.
*Fagoyatul ibtila asobr.* Karena tujuan dari ujian itu sabar. *Fala yakulu ila mata nasbir.* Maka tidaklah kita, jangan sampai kita berkata, "Sampai kapan, ya Allah, sampai kapan kita bersabar?" Karena tujuan dari ujian adalah agar kita bisa bersabar. Maka sampai kapan kita bersabar dalam menghadapi ujian Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai Allah wafatkan? Paling 70 tahun, 80 tahun rata-rata.
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ
Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun.
Umur umat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu 60 sampai 70 tahun rata-rata. (HR. Tirmidzi No. 2331, dan dinyatakan hasan oleh al-Albani)
*Fal jamilu laisa fil malbasi awil wajhi, walakin aljamilu yakunu fil qolbi.* Sebuah keindahan itu tidak hanya melekat pada pakaian kita atau pada rupa-rupa kita, tapi sebuah keindahan itu adalah ketika bagaimana seorang mukmin mempunyai hati yang mampu bersabar ketika menghadapi ujian Allah Subhanahu wa Ta'ala.
*Faidza lam yakun hunaka shodiqun yukdi, au ahlun la yasy'uru masyairona. Kaifa ayyamtahina sobrona?* Ketika tidak ada teman yang mengganggu kita, yang menguji kesabaran kita, tidak ada keluarga mungkin yang tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan, tidak ada orang-orang yang datang ke dalam kehidupan kita sebagai ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimana kita mengetahui bahwasanya kita ini termasuk orang yang sabar atau tidak?
Maka sebuah kaidah, *kullu syaiin fiddunya ibtila*. Hatta, setiap hal atau setiap orang yang Allah datangkan ke dalam kehidupan kita itu ujian. Sampai orang-orang terdekat kita, teman-teman kita, keluarga kita, intinya setiap hal dan orang-orang yang Allah jadikan kita untuk bertemu dengannya, berinteraksi dengannya, menjalin komunikasi, dan yang lain sebagainya, itu semua ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kenapa? Sederhana. Karena dunia ini adalah tempat ujian.
إِنَّا خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya. (Surah Al-Insan: 76:2)
Sesungguhnya kami menciptakan manusia dari air yang menjijikkan, *nabataliihi*, karena kami ingin menguji mereka. Karena Allah ingin menguji manusia. Maka jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, poin pertama, kenapa Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji kita adalah untuk melihat apakah kita benar-benar termasuk orang yang sabar atau tidak.
### Tujuan Lain Allah Menguji Hamba-Nya
Poin yang kedua, setelah Allah mengetahui apakah kita termasuk orang yang sabar atau tidak, lantas apa sebenarnya tujuan Allah menguji kita? Ada beberapa poin.
1. **Menguji Kesabaran dan Ibadah Kita**
Yang pertama, yang telah kita sebutkan tadi, menguji kesabaran dan ibadah kita. *Liyamtahina sobrohu wa ubudiyatahu*.
2. **Tanda Cinta Allah**
Kemudian yang kedua, ujian itu tanda bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai kita. Karena di dunia saja, ketika kita ingin naik kelas, menginjak ke kelas yang selanjutnya, kita pasti akan melaksanakan ujian dahulu. Antum sudah melaksanakan ujian? PAS belum? Nah, setelah PAS itu kan kenaikan kelas. Kalau antum enggak PAS, antum enggak naik kelas. Makanya seperti itu juga Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji hamba-Nya untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka ketika seorang hamba berhasil melewati ujian Allah Subhanahu wa Ta'ala, dia melewati ujiannya dengan sabar dan tidak keluar dari apa yang Allah perintahkan dan yang Allah larang, maka itu menjadikan dia lebih tinggi derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3. **Mengampuni Dosa**
Yang ketiga, mengampuni dosa. Ujian yang Allah berikan itu bisa saja karena Allah menginginkan kita agar terbebas dari dosa. Bukan terbebas secara menyeluruh, tapi Allah ingin menghapus dosa-dosa kita dengan ujian-ujian tersebut.
### Kisah Ibu dan Anaknya: Hikmah di Balik Ujian
Ada sebuah kisah. Kisah ini dari guru kami. Beliau menceritakan bahwasanya ada seorang ibu-ibu. Jadi ibu-ibu ini bercerita kepada guru kami. Beliau punya seorang anak. Ibu-ibu ini punya seorang anak yang divonis dengan penyakit kanker stadium akhir. Setelah divonis, ibu tersebut terguncang. Ya, orang tua mana yang tidak terguncang setelah mendengar kabar bahwasanya anaknya divonis kanker stadium akhir? Dan memang waktu itu penyakitnya terdeteksi itu lambat. Maksudnya, ketika penyakitnya sudah parah, baru terdeteksi.
Kemudian ketika dibawa ke rumah sakit, dokternya mengatakan, "Anak ibu ini hanya punya waktu beberapa hari saja." Sampai suatu hari, entah selisih berapa hari, ibu ini ditelepon oleh dokter tersebut. "Bu, malam ini kalau bisa jangan sampai jenengan meninggalkan anak ibu." Artinya apa? Disuruh untuk bisa tetap di sampingnya. Artinya apa? Spesifik. Jadi malam itu, dalam keadaan yang sudah kritis, kanker stadium akhir, orang tuanya ditelepon, disuruh menjaga anaknya, dan jangan sampai meninggalkan anaknya pada malam itu.
Maka setelah ibunya datang ke rumah sakit, beliau dikabari bahwa anak ibu tersebut punya waktu sampai malam ini saja. Kalau malam ini tidak BAB, karena waktu itu, *wallahu a'lam*, dengan BAB itu penyakitnya bisa ikut keluar. Jadi kalau anaknya BAB, ada kemungkinan penyakitnya juga ikut keluar. Nah, dokternya mengatakan, "Kalau anak ibu tidak BAB sampai malam ini, maka selesai."
Maka semenjak habis Isya, setelah ibu tersebut dikabari oleh dokter tersebut bahwa waktu anaknya adalah sampai malam ini berakhir, beliau langsung berdoa. Berdoa nonstop. Apa yang beliau minta? Bukan agar anaknya jadi dokter, jadi profesor, jadi ustaz, dan lain sebagainya. Pikiran-pikiran itu semua sudah tidak ada. Beliau tidak minta gaji yang besar, rumah yang besar, mau bilang mewah, dan yang lain-lain, itu sama sekali tidak terbesit. Karena waktu itu bagi beliau yang paling penting adalah agar anaknya bisa BAB. Jadi beliau semalam nonstop itu meminta kepada Allah agar anaknya bisa BAB.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (Surah Ar-Rahman: 55:13)
Kita yang setiap hari mungkin lancar BAB-nya, kadang tidak mensyukuri nikmat ini. Apakah kita pernah dititik meminta kepada Allah hal seperti BAB? Mungkin enggak pernah atau sedikit. Tapi poinnya adalah BAB ini adalah sebuah nikmat. Mungkin seperti nikmat bernafas, nikmat bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, bisa berjalan dengan normal. Tapi jarang kita syukuri. Yang kita minta ketika berdoa kepada Allah seringnya adalah hal-hal yang lain. Kita meminta Allah, meminta kepada Allah, tapi lupa mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita.
Kembali ke cerita, ibu tersebut setelah berdoa dari habis Isya nonstop, beliau juga manusia biasa. Maka sekitar jam 11.00 atau jam 12.00, beliau pun ketiduran. Beliau ketiduran sampai sekitar jam 2.00. Itu beliau terbangun. Terbangun karena mencium bau yang sangat tidak enak. Ketika beliau bangun, beliau bukan marah-marah karena mencium bau enggak enak, tapi beliau bahagia. Bahagia karena apa? Karena memang itulah yang beliau inginkan. Kata beliau, "Tidak ada. Saya tidak pernah mencium bau yang setidak enak ini, tapi saya juga tidak pernah merasakan perasaan yang sebahagia ini." Namun ketika beliau melihat ke ranjang anaknya di rumah sakit, ternyata anaknya belum buang air besar, belum BAB.
Kemudian datanglah dokter. Beliau mengatakan, "Ibu, waktu anak Ibu sampai jam 5.00 secara medis. Kalau sampai jam 5.00 anak Ibu tidak BAB, maka selesai." Ibu tersebut terguncang kedua kalinya. Ya, bayangin saja, 2, 3, 4, 5. Sisa waktunya 3 jam. Kalau anaknya tidak bisa BAB sampai jam 5.00, maka besar kemungkinan anak tersebut bisa meninggal dunia. Maka apa yang ibu tersebut lakukan? Beliau berdoa lagi nonstop, meminta agar anaknya bisa BAB. Panjang sekali beliau meminta kepada Allah sampai akhirnya mendekati jam 5.00. Mendekati jam 5.00, anaknya bisa buang air besar, bisa BAB. Maka beliau mengatakan perkataan yang tadi untuk kedua kalinya, "Saya tidak pernah mencium bau yang setidak enak ini, tapi saya juga tidak pernah merasakan perasaan yang sebahagia ini."
Dan dari kisah ini, jemaah yang dirahmati Allah, kita bisa memetik hikmah, pelajaran bahwa terkadang ujian yang kita lalui, yang Allah timpakan kepada kita, itu tidak seberapa dari ujian yang Allah timpakan kepada orang lain. Maka kita itu punya banyak teman, atau semua yang hidup di dunia ini pasti Allah uji. Makanya kita itu tidak sendirian. Dan ketika kita sadar bahwasanya kita punya teman, kita punya saudara yang sama-sama menanggung ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita bisa saling menguatkan.
سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ
Kami akan menguatkan lenganmu dengan saudaramu. (Surah Al-Qasas: 28:35)
Dan kita sesama saudara Muslim itu bisa menguatkan satu sama lain. Itu adalah poin yang kelima. Kenapa atau apa tujuan Allah menguji kita? Yaitu untuk mengampuni dosa kita dan menguji mana yang benar-benar beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita bisa bayangkan bagaimana ketika ibu tersebut yang dalam kisah tadi itu menyerah, dia pesimis atau bahkan menyalahkan takdir. Bisa jadi Allah tidak sembuhkan, Allah tidak jadikan anaknya bisa BAB. Maka ketika ibu tersebut kuat imannya, beliau yakin kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa ketika Allah menurunkan ujian, Allah menurunkan masalah, maka Allah juga memberikan solusinya juga. Dan ketika ibu tersebut berpegang terhadap keyakinan tersebut, Allah tunjukkan jalannya.
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (Surah At-Talaq: 65:2)
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, Allah akan berikan jalan keluar.
## Kunci Menghadapi Ujian dan Masalah
Jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, ada beberapa poin, yaitu setelah kita mengetahui tujuan Allah Subhanahu wa Ta'ala menguji kita, poin yang selanjutnya adalah apa saja kunci agar masalah yang Allah timpakan kepada kita itu bisa terurai, atau bagaimana cara kita menyelesaikan masalah dan ujian yang Allah berikan kepada kita.
Pertanyaan yang pertama, kenapa kita sering tidak bisa sabar dengan masalah atau ujian yang Allah berikan kepada kita? Seringkali ketika Allah berikan masalah di hidup kita, kita langsung depresi, stres, menyerah, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang bunuh diri, *nauzubillah*. Padahal tidak ada pintu yang tidak punya kunci, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya, dan tidak ada masalah yang tidak ada solusinya. Bagaimana cara kita melewati ujian yang Allah berikan kepada kita?
### 1. Ilmu
Yang pertama, harus dengan **ilmu**. Kenapa harus dengan ilmu? Karena ilmu adalah kunci agar kita tahan dengan masalah atau ujian yang bertubi-tubi. Kita bisa melihat bagaimana Nabi Khidir mengatakan kepada Nabi Musa ketika Nabi Musa mengikuti beliau dalam menjalani kehidupan beliau sebagai seorang nabi, menyampaikan syariat dengan syariat yang Allah berikan kepada Nabi Khidir. Beliau mengatakan ketika Nabi Musa sudah menyerah:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًا
Bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? (Surah Al-Kahf: 18:68)
Bagaimana kamu bisa sabar sedangkan kamu tidak mempunyai ilmu atau tidak mengetahui cara untuk bersabar untuk melewati ujian tersebut? Maka intinya sebenarnya bukan di ringan atau beratnya ujian, tapi apakah kita tahu cara untuk melewati ujian tersebut? Sekarang saya mau tanya, apakah ada soal yang sulit? Sebenarnya tidak ada soal yang sulit. Karena sesulit apapun soal, kalau kita tahu jawabannya, ya mudah. Nah, seperti itu analoginya. Seperti itu.
Maka bagaimana kita bisa melihat para sahabat yang ada yang ditindih dengan batu besar, kemudian ada yang dibunuh? Bagaimana para nabi terdahulu disiksa, tapi mereka semua bisa melewati ujian-ujian tersebut? Kuncinya ya tadi, ilmu. Mereka tahu bagaimana cara untuk melewati ujian-ujian Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan oleh karena itu juga, dari ilmu ini, ilmu untuk menghadapi ujian, kita bisa melihat bagaimana orang-orang menghadapi ujian tersebut. Ada orang yang ketika ditimpa musibah, dia bersedih, dia murung, dia tidak bahagia. Tapi ada orang yang ditimpa musibah, diberikan ujian oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tapi dia bahagia. Ini kan perbedaan ilmu yang pertama dan perbedaan sudut pandang melihat ujian tersebut.
Sebagaimana yang kita sampaikan di awal, orang yang bisa bersabar atas ujian, dia akan melihat ujian dan musibah yang Allah berikan kepada dia sebagai sesuatu yang indah. Karena apa? Karena alasannya, alasan Allah memberikan kita ujian itu, kalau tidak Allah mencintai kita, Allah ingin mengangkat derajat kita, atau Allah ingin menghapus dosa kita, atau Allah ingin menguji apakah kita ini benar-benar orang yang bersabar atau tidak. Dan itu adalah sebab bagaimana orang-orang yang bisa bersabar melihat ujian itu indah di matanya. Maka ketika kita tahu bahwasanya hal yang paling penting untuk menghadapi ujian-ujian hidup dari kita kecil sampai nanti meninggal, itu adalah ilmu, maka kita harus banyak-banyak belajar. Bagaimana dahulu para nabi melewati ujian Allah, bagaimana para sahabat, bagaimana para tabiin, kita harus mengetahui itu semua.
### 2. Fokus pada Ranah Kita, Bukan Ranah Allah
Kemudian yang kedua, kunci agar masalah kita bisa terurai atau agar kita bisa menghadapi ujian Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan lancar, yaitu **sibukkan kita dengan apa yang menjadi ranah kita**. Apa maksudnya? Sibukkan diri kita dengan tugas kita dan jangan urus-urusan yang itu menjadi ranah Allah. Tugas kita apa? Tugas kita ketika Allah berikan ujian, tugas kita berikhtiar, berusaha untuk melewati ujian tersebut dengan apa yang telah Allah tunjukkan. Kita bisa menjauhi larangan Allah, kemudian mengerjakan perintah Allah. Intinya kita menyelesaikan ujian tersebut dengan ikhtiar kita sebagai manusia.
Urusan hasil, kemudian kapan masalah itu selesai, kapan ujian itu berhenti, itu bukan urusan kita. Itu urusan Allah. Maka tidak jarang kita temui orang-orang yang depresi, frustrasi, *overthinking*, kemudian masalah-masalah mental lainnya. Itu seringkali terjadi karena orang tersebut terlalu sibuk mengurusi urusan yang sebenarnya itu ranah Allah. Dia terlalu sibuk memikirkan, "Bagaimana kalau ujian ini tidak selesai? Kapan ini ujiannya selesai? Ya Allah, kok begini terus? Kapan berhentinya?" Dan pertanyaan-pertanyaan yang itu bukan ranah kita dan kita tidak mampu, kita tidak mengetahui akan hal itu.
Maka benarlah ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:
لَا يُسْـَٔلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْـَٔلُونَ
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai. (Surah Al-Anbiya: 21:23)
Allah tidak ditanya tentang apa yang Allah lakukan, tapi kitalah yang ditanya dengan apa yang kita lakukan. Masalah Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan solusinya kapan, menyelesaikan ujian kita itu kapan, itu urusan Allah dan Allah tidak ditanya atas hal itu. Tapi yang ditanya, yang akan ditanya nanti adalah apa yang kita lakukan ketika menghadapi ujian tersebut. Apakah kita lebih sibuk memikirkan apa yang menjadi urusan Allah? Apakah kita lebih sibuk merenung, tidak berzikir, melalaikan ibadah-ibadah atau perintah-perintah Allah? Kemudian dengan masalah itu kita jadi semakin nekad dan berani menerjang larangan-larangan Allah. Nah, itu kita, kita yang akan ditanya nanti bagaimana kita menjalani ujian yang telah Allah berikan tersebut.
### Perbandingan Amal Dunia dan Akhirat
Maka jemaah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, ada sebuah perkataan dari seorang ulama. Beliau mengatakan:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ بِقَدْرِ بَقَائِكَ فِيهَا
Beramallah untuk duniamu sekadar lamanya engkau hidup di dalamnya, dan beramallah untuk akhiratmu sekadar lamanya engkau hidup di dalamnya. (Perkataan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib atau ulama salaf lainnya)
Ketika kita hidup di dunia, ya kita harus beramal di dunia seberapa lama kita akan hidup di dunia tersebut. Dan ketika kita beramal untuk akhirat, ya kita harus beramal sesuai dengan seberapa lama kita akan hidup di akhirat. Hidup di dunia berapa tahun? 60 sampai 70 tahun. Hidup di akhirat berapa tahun? Selamanya. Maka kita harus beramal, kita harus mengikhtiarkan apa yang menjadi urusan kita di kehidupan ini, di kehidupan dunia ini, sewajarnya, semampu kita. Dan kita harus mengikhtiarkan apa yang menjadi keinginan kita di akhirat, di surga, di mana kehidupannya adalah kehidupan yang abadi, itu dengan ikhtiar yang maksimal. Karena kehidupannya abadi, beda dengan kehidupan dunia yang sementara.
Maka semoga kita semua Allah jadikan termasuk orang-orang yang bersabar atas ujian yang telah Allah berikan, dan Allah menjadikan kita orang-orang yang *ahsanu amala*, orang-orang yang paling baik amalannya. Sehingga selain kita bisa berkumpul di masjid ini, di pondok ini, sebagaimana kita di dunia, semoga Allah juga perkenankan kita untuk berkumpul kembali di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal Alamin.
Subhanakallahumma wabihamdika. Asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. sumber : https://www.facebook.com/100069181461268/videos/1325559916138294
you may also like
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Pengunjung
Media Sosial
[socialcounter]
[facebook][https://www.facebook.com/ponpeskarangasempaciran/#][2,3k]
[twitter][https://twitter.com/PonpesKarangasm][106]
[youtube][https://www.youtube.com/channel/UCCKEoxF4Xtwjb9ypOaO2lVQ?view_as=subscriber][1, 800]
[instagram][https://www.instagram.com/ponpeskarangasem/][2,347]
Kunjungi Situs
Profil MAM 1 Karangasem
Profil SMAM 6 Karangasem
Profil SMKM 8 Karangasem
Profil MTs.M 2 Karangasem
Profil SMPM 14 Karangasem
Profil KMI Karangasem
Postingan Populer
-
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi binikmatihi tatimmus sholihan. Asy...
-
Dokumentasi Sosialisasi Kebijakan Keuangan, Pendidikan dan Kepondokan Wali Santri Baru TP. 2026/2027Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan menggelar kegiatan Sosialisasi Kebijakan Keuangan, Pendidikan, dan Kepondokan bagi wali santri ...
-
Meskipun Pondok Pesantren Karangasem telah dikenal oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar negeri, namun tidak banyak yang tah...
-
Judul Buku : Sekokoh Karang Seteduh Asem (Biografi KH.Abd. Rahman Syamsuri) Penyusun : Bamban...
-
Berjuang terus pelajar karangasem, Teguhkanlah ruh keimananan, Bina diri agama dan negara, Insaf dan penuh ketekunan,
-
Suasana Ujian Akhir Pondok Santri Kls 3 dan 6 Madin Tapel 12/13 Pelaksanaan Ujian Diniyah Semester Genap atau UKK (Ujian Kenai...
-
Konsep Ketuhanan dalam Islam: Surat Al-Ikhlas sebagai Panduan* Sari kultum 1 Masjid Taqwa Paciran Surat Al-Ikhlas merupakan salah satu surat...
-
Deklarasi Media Literacy Prodi Ilmu Komunikasi UMM di Pondok Pesantren Karangasem, Lamongan (9/2/13). Tampak Pimpinan Ponpes, KH Haka...
-
Alhamdulillah MAM 1 meraih juara III Kaligrafi Musabaqah Tilawatil Qur'an Tingkt SLTA Sejawa Timur atas nama Luckia di UNISMA. Sa...
Berita Terkini
recentposts

Tidak ada komentar:
Posting Komentar