Minggu, 10 Mei 2020

Kunjungan Santri Pondok Karangasem Muhammadiyah ke redaksi Matan, PWM Jawa Timur

.
 PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Nadjib Hamid mengatakan 15 abad yag lalu Alquran sudah berbicara pentingnya menulis. “Nun wal qalami wama yasturun,” ucapnya menyebut Surat Alqalam Ayat 1.

Bahkan soal etik jurnalistik yaitu pentingnya tabayyun (klarifikasi) Alquran juga telah menyampaikan melalui Surat Al Hujurat Ayat 6.

Pernyataan itu disampaikan Nadjib di hadapan Pengurus Organisasi Pondok Pesantren Karangasem Paciran Lamongan di Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Kamis (13/12/18).

Sebanyak 56 siswa yang didampingi 4 pengasuh berkunjung ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim untuk belajar tentang ilmu jurnalistik.

Selain Nadjib Hamid, hadir Pemimpin Redaksi (Pemred) Matan Ainur Rofik Shofaan, Pemred PWMU.CO Mohammad Nurfatoni, Pemred Walida Emi Harris. Ada Juga Redaktur Matan Miftahul Ilmi dan Redaktur PWMU.TV Nuruddin.

Dua ayat di atas, menurut Nadjib Hamid, seharusnya memberi motivasi yang kuat betapa pentingnya menulis bagi kader Persyarikatan terutama dalam menghadapi perang pemikiran atau ghazwul fikri.


Karena itu agar media milik Persyarikatan seperti Matan, PWMU.CO, Walidah, atau PWMU.TV, bisa maju, besar, dan memenangkan perang pemikiran itu, warga Muhammadiyah harus mau menulis, membaca, dan menyebarkannya.

“Saya kira kita harus melakukan revolusi, sekali-kali siswa (pondok pesantren) diperbolehkan membuka handphone untuk membuka portal berita PWMU.CO dan membacanya. Juga menyebarkannya. Itu agar viewer-nya banyak. Masak orang lain sudah menggarap big data, kita masih berfikir tentang pembaca,” kata Calon Anggota DPD RI Dapil Jatim nomor urut 41 itu.


Nadjib Hamid (depan) berfoto bersama pengurus Organisasi Pondok Pesantren Karangasem Paciran. (MN/PWMU.CO)
Nadjib mengungkapkan, orang sering menyebut zaman sekarang ini sebagai era informasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan, di lingkungan pesantren era ini disebut sebagai ghazwul fikri atau perang pemikiran.

Baca Juga:  Fenomena Ghazwul Fikr dan Ketidaksiapan Generasi Bangsa
Dulu, ceritanya, perang fisik menggunakan senjata bambu runcing ataupun mengunakan senjata modern lainnya. Tapi, pada era ghazwul fikri senjatanya adalah pena sebagi simbol menulis.

“Nah, siapa yang tidak pernah menulis, maka ia tidak pernah berjuang. Sebab, jihad sekarang ini adalah bersenjatakan pena, yang itu simbol dari menulis. Meski kini sudah ada handphone yang juga bisa dipakai menulis.”

Nadjib menegaskan, jika tidak memiliki media yang kuat, maka pemikiran umat Islam akan kalah dengan pemikiran barat utamanya. “Kita masih tidak punya senjata untuk memenangkan pertarungan itu,” ungkapnya.

Menurut Nadjib, ketika di lingkungan ormas Islam lain media online telah berkembang pesat, kita di lingkungan Pesyarikatan masih terus belajar. Itupun belum didukung seluruh komponen di Persyarikatan. “Ini pertarungan yang sangat berat. Senjata kita adalah menulis dan membaca,” tegasnya.

Nadjib menuturkan, salah satu faktor lahir dan terbitnya majalah Matan adalah ketika Muhammadiyah mulai menyadari bahwa telah kalah perang dalam pengelolaan media massa.

Waktu itu, ceritanya, hanya ada majalah Suara Muhammadiyah yang terbit dua bulan sekali. Seiring perkembangan waktu, terbit media yang selalu up date tidak hanya harian saja. Tapi sudah per detik mengabarkan informasi. “Nah, itulah kenapa PWM Jatim akhirnya menerbitkan majalah bulanan Matan ini. Dan, di kemudian hari membikin media online PWMU.CO,” paparnya.

Nadjib lalu mengajak para siswa tidak hanya belajar jurnalistik. Lebih dari itu, setelah belajar harus pula dipraktikan dengan cara menulis.  “Nah, modal utama untuk menulis itu ya harus banyak membaca. Terutama membaca berbagai literasi media agar kita kaya kosa kata,” pungkasnya. (Aan)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar